Ada Kepentingan penghematan di proyek Masela

JAKARTA – Pemerintah merespon pernyataan Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri yang mengungkapkan ada banyak kepentingan di balik skema blok Masela, Maluku. Melalui Kementerian Koordinator  (Kemenko) Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya dijelaskan kenapa opsi pembangunan pipanisasi (onshore) lebih menguntungkan dibanding di tengah laut (offshore).

lautindo Masela

Tenaga Ahli Bidang Energi Kemenko Maritim dan Sumber Daya Dr. Haposan Napitupulu juga membantah bahwa skema rencana kilang darat bakal menjadi proyek terbesar di Indonesia. Menurutnya jalur pipa yang akan dibangun di skenario Kilang LNG Darat adalah dari Lapangan Abadi ke Pulau Selaru hanya sepanjang 90 km.

Proyek ini bukan merupakan proyek pipa terbesar di Indonesia, karena sebelumnya juga pernah dibangun jalur pipa gas laut. Misalnya, North Bali ke Gresik sepanjang 370 Km; lapangan Kakap Natuna ke Singapura sepanjang 500 Km; lapangan Koridor Jambi ke Singapura sepanjang 248 Km; dan lapangan Kepodang ke PLTU Tambaklorok di Semarang sepanjang 100 Km.

Haposan juga menekan bahwa tujuan investor membangun kilang LNG Laut bukan karena faktor pendapatannya tergerus sebagaimana disampaikan Faisal,  melainkan untuk mendapatkan cost recovery, dengan beberapa alasan.

Pertama, riset kilang LNG Laut dilakukan oleh Shell yang sekarang merupakan leading player di pembangunan LNG Laut, yang rencananya akan diimplementasikan untuk pertama kali di dunia di lapangan Prelude, Australia. Sehingga jika kilang LNG Laut akan diimplementasikan juga di Masela, maka proyek Masela akan menanggung biaya riset yg telah dikeluarkan oleh Shell.

Kedua, peralatan proses kilang LNG Laut hanya dibuat oleh Shell, sehingga  refrigerant-nya proyek kilang LNG Laut di Blok Masela sebagai komponen utama proses LNG hanya akan disuplai oleh Shell, tidak ada pilihan lain.

Ketiga, dengan pemilihan kilang LNG Laut, harga gas sudah tidak ekonomis lagi bila digunakan sebagai bahan baku untuk industri petrokimia atau industri lainnya, karena LNG lebih mahal sebesar 5 sampai 6 dolar AS dibandingkan harga gas alam dari pipa. Sehingga LNG produk kilang LNG Laut akan “terpaksa” diekspor, khususnya ke Jepang, dalam rangka mengamankan security of supply.

Dia juga menekankan bahwa skema pembangunan kapal di tengah laut atau offshore membutuhkan biaya yang lebih besar apabila dibandingkan membangun dengan cara pipanisasi. Mengacu pada biaya pembangunan 16 Kilang LNG darat yang telah terbangun di Indonesia dan 1 Kilang LNG yang masih dalam tahap perencanaan Kilang LNG Tangguh Train 3, diperkirakan mencapai USD 16 milyar.

“Mengacu kepada biaya LNG Laut di Prelude-Australia, maka perkiraan biaya pembangunan skenario Kilang LNG Laut sekitar USD 23-26 miliar sedangkan kilang darat diperkirakan mencapai USD 16 miliar. Secara ke ekonomian skenario LNG Laut lebih mahal yang akan berakibat tingginya cost recovery atau semakin berkurangnya pendapatan bagian negara,” tandasnya.

Leave a Reply