Bahagianya Mencapai Ujung Timur Negara

Satria Dharma di Batu perbatasan RI-Papua New Guini 1
Gapura Selamat Datang ke Indonesia sebagai pintu Utama antara Papua Niuguini dengan Indonesia (foto Satria Dharma)

Lautindo|Wisata|Merauke –┬áSATU TUBUH DI DUA NEGARA, demikian judul tulisan Bapak Literasi Indonesia, Satria Dharma dari ujung timur Indonesia dalam kesempatan langka menjelajah Indonesia melalui kegiatan literasi.

Berikut paparannya untuk kita berikut foto-foto yang bercerita.
Rupanya tekad “Jangan mati sebelum…” telah berkembang hingga ada pula versi “Jangan mati sebelum menginjak tanah mulai Sabang sampai Merauke.” Ada cerita ttg sepasang orang tua berusia 70 tahunan ngotot utk datang ke Merauke agar bisa memenuhi keinginannya mendatangi perbatasan Indonesia dari ujung paling Barat sampai dengan ujung paling Timur sebelum mereka meninggal.
Alhamdulillah kami juga sudah berhasil menginjakkan kaki di KM Nol Sabang dan di titik terluar Merauke. Bukan hanya di titik terluar, kami bahkan berhasil menginjak tanah Papua New Guinea di perbatasan Distrik Sota dengan PNG.
Sekedar utk diketahui bahwa utk bisa menginjak tanah paling ujung Timur dari Indonesia Anda bukan hanya harus datang ke Merauke tapi juga harus menempuh perjalanan lagi sejauh 84 km menuju Distrik Sota. Meski jaraknya lumayan jauh tapi bisa dijangkau kurang dari dua jam karena jalanan beraspal cukup mulus (kecuali di beberapa tempat yang berlobang) dan jalanan sangat sepi. Di sepanjang perjalanan juga tidak ada perumahan penduduk atau warung-warung. Jalanan menuju Distrik Sota memang membelah Hutan Lindung Wasior Merauke. Di distrik ini kita harus masuk lagi ke kompleks militer AD yang menjadi tempat terujung dari wilayah Indonesia.
Saya beruntung punya waktu kosong seharian sehingga bisa menyewa mobil sekalian sopirnya utk mendatangi distrik ini. Ketika ditawari sewa 750 ribu termasuk bahan bakar dan sopir langsung saya sepakati tanpa menawar lagi.
Perjalanan dari Merauke ke Distrik Sota sangat sepi pagi itu dan seolah hanya kami yang melintas. Tidak lama kemudian kami sampai di pos penjagaan militer dan harus melapor dulu. Di pos penjagaan militer saya sempat berkenalan dengan Pak Abdul Qomar, Komandan Rayon Militer di distrik ini yang sedang menunggu tamu dari Aster Kodam dan rombongan dari Kementrian Pertanian. Kami kemudian diberi kesempatan utk mendatangi batas terjauh dan berfoto disitu. Semula saya pikir tugu perbatasan (Border Monument) yang bertuliskan koordinat titik yang dibikin oleh Australia Survey Team itu adalah titik terjauh tapi ternyata saya malah diajak utk menuju ke patok lebih jauh lagi yang menjadi batas antara negara Indonesia dan PNG. Setelah berjalan melintasi jalan setapak yang becek di bawah pohon-pohon tumbang kami tiba di sebuah patok beton kecil yang merupakan patok perbatasan antar negara. Di situ saya berdiri satu kaki di Indonesia dan satu kaki lagi di PNG. One body in two countries. Kami sangat beruntung bisa mendapatkan pengalaman yang sangat unik, menarik, dan langka ini.

Saya rasa Anda layak iri pada kami. 😄 Disini kami juga berkesempatan melihat “Al-Burj Tower of Ants” alias rumah semut yang tingginya kayak tower Al-Burj aja. Entah berapa lama semut-semut itu membangun rumahnya.

Satria Dharma bersama tentara penjaga perbatasan
Kalau saja kami tidak bertemu dengan Komandan Danramil pada saat itu mungkin kami juga tidak akan diantar oleh Pak Parno, anak buahnya yang sudah puluhan tahun bertugas disana, sampai ke patok tersebut.

Jadi kapan Anda akan menyusul kami datang ke ujung paling timur Indonesia ini?

Satria Dharma di Batu perbatasan RI-Papua New Guini
“Satu tubuh di dua negara” yah demikian Satria Dharma mengangkangi batu perbatasan.
Share Button

Comments

comments

Translate »