Benang Merah Kecelakaan Kapal di Indonesia

kapal satgas

| LAUTINDO | SHIP | JAKARTA | Di wilayah laut territorial Indonesia, ada sekitar 14.000an kapal sesuai data di Biro Klasifikasi Indonesia. Belum lagi kapal yang terdaftar di Kementerian Perhubungan yang informasinya sekitar 52.000an kapal lebih. Bila pada saat tertentu ada sekitar 20% saja kapal yang beroperasi berarti ada sekitar 2.800 kapal beroperasi pada saat yang bersamaan (mengacu pada data BKI) dan kapal-kapal tersebut berlalu-lalang di perairan Indonesia. Ini berpotensi kecelakaan. Apalagi bila lebih dari 80% kapal-kapal di Indonesia beroperasi menjalankan roda bisnisnya, akan menjadi semakin sangat beresiko tinggi. “Benang Merah Kecelakaan Kapal di Indonesia”.

Keadaan geografis di perairan Indonesia bagi pelaut bisa dibilang sangat menantang disamping adanya angin barat dan angin timur yang berhembus kencang pada periode bulan tertentu, kondisi laut terkait gelombang ada yang namanya laut dengan gelombang moderat, ada yang namanya laut dengan gelombang dahsyat dan ada yang laut dengan gelombang sangat dahsyat. Ditambah lagi Indonesia adalah Negara kepulauan, lebih dari 17000 pulau dan selat-selat serta alur sungai yang sempit. Ada dasar laut yang dangkal, ada dasar laut yang berbatuan karang dan ada dasar laut yang dalam. Ini semua adalah kegiatan pelayaran yang beresiko dan harus kita antisipasi.

Selanjutnya, bagian-bagian terluar perairan Indonesia dikelilingi oleh Laut China Selatan, Samudera Pasific dan Samudera Hindia yang kadang kala mempunyai badai yang dapat mengancam keselamatan kapal sepanjang tahun. Kondisi musim angin Barat dari Asia dan angin Timur dari Australia membutuhkan perhatian yang sangat serius bagi BMKG dan terutama bagi pemilik kapal dan Nakhodanya terutama teknologi peralatan keselamatan perkapalan dan teknologi peralatan keselamatan navigasi yang dipasang di atas kapal. Teknologi-teknologi tersebut tentunya tidak hanya sekedar dipasang saja akan tetapi membutuhkan kompetensi dan keterampilan tertentu bagi personel pelaut. Bagaimana ISM code diperiksa dan dijalankan secara konsisten untuk ini.

Beberapa data kecelakaan kapal dari Basarnas, misalnya di Situbondo, kapal penumpang mengalami kematian pada mesinnya sekitar 14 mil arah utara dari Pelabuhan Kalbut, di Kupang, Empat hari melaut Agustinus nelayan yang hilang saat melaut di perairan desa Hebing akhirnya ditemukan, di Ketapang, 3 hari terombang ambing di Laut, Kapal nelayan mengalami masalah pada propelernya (poros propellernya patah). Ada lagi, pencarian nelayan yang hilang di Perairan Manneang, kota Palopo. Satu Korban Speedboat Tenggelam, dengan POB 5 orang tenggelam di daerah Kampung Subu Daratan Besar dekat Mamberano. Masih banyak lagi informasi seperti tersebut.

Data kecelakaan kapal di Indonesia untuk tahun 2009, misalnya, 11 Januari 2009, KM. Teratai Prima tenggelam di Tanjung Baturoro, Sendana, Majene, Sulawesi Barat; dari sekitar 300 korban. 27 Juli 2009 KM. Cahaya Abadi Utama tenggelam di Selat Makassar, bermuatan 50ton jagung dan 3.000 tandan pisang berlayar dari Kecamatan Budonbudon, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Selatan dengan tujuan Samarinda. 28 Agustus 2009 – KM Sari Mulia, Total korban tewas yang ditemukan mencapai 21 orang penumpang. 22 November 2009 KM. Dumai Express 10 di perairan Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau yang diakibatkan oleh cuaca buruk. Kejadian tersebut mengakibatkan 28 orang meninggal dunia, korban hilang sebanyak 12 orang dan korban rawat inap sebanyak 12 orang di RSUD Tanjung Balai Karimun dan 2 orang di Puskesmas Balai. Ini data-data yang sempat kami kumpulkan. Tentunya masih banyak data-data kecelakaan kapal yang lain yang belum sempat ditulis.

Berdasarkan data yang ada di ambil dari berbagai sumber, diperkirakan 43%-96% dari kecelakaan kapal disebabkan oleh kesalahan manusia. Salah satu pendekatan yang dihasilkan dari lembaga riset budaya keselamatan kapal, dimana faktor manusia dapat dibagi menjadi tiga tingkatan, antara lain:

  • Desain kapal
  • Personil kapal
  • Organisasi kapal

Faktor manusia tingkat pertama, yaitu desain kapal, semakin canggih kapal maka keselamatan kapal dapat meningkat. Tentunya kecanggihan kapal berimplikasi pada keuntungan dan kerugian kapal. Pelaut memerlukan training dan pelaut memerlukan pemahaman manajemen, serta pelaut memerlukan faham akan prosedur yang temat tentang keselamatan kapal.

Faktor manusia tingkat kedua yaitu personil kapal. Dijumpai adanya faktor kelelahan pelaut, foktor kondisi pelaut yang mengalami stress dan kejenuhan di laut, faktor kondisi kesehatan pelaut, faktor situasi kesadaran pelaut itu sendiri, faktor pelaut mengambilan keputusan navigasi, faktor pelaut melakukan komunikasi, dan faktor isu-isu yang berkaitan keragaman budaya pelaut.

Faktor manusia tingkat ketiga adalah organisasi kapal dan perusahaan. Hal ini mencakup isu-isu mengenai kebijakan keselamatan yang diterpak oleh perusahaan sebagai pemilik kapal atau operator kapal biasanya diimplementasikan dalam ISM Code. Yang paling nyata misalnya pelatihan akan tindakan keselamatan kapal dan mensosialisasikan budaya keselamatan kapal.

Dari semua tingakatan tersebut diatas dapat ditarik benang merahnya ternyata penyakitnya adalah “budaya keselamatan kapal (safety culture)”. Penurunan kewaspadaan dan kelelahan bagi pelaut dalam budaya maritim sering kali ditemukan. Hal ini perlu dipertimbangkan adanya peningkatan jadwal kegiatan lalu lintas laut, kebutuhan untuk mempercepat atau mempersingkat jalur pelayaran dan kurangnya fit dalam melakukan tugas jaga bagi pelaut.

Namun, selain penyebab yang dikaitkan dengan faktor manusia atau personil atau faktor organisasi atau keadaan kerja di kapal sebanarnya, sebenarnya masih ada juga faktor-faktor lain yang menjadi faktor penyebab kecelakaan kapal. Budaya keselamatan pelayaran harus secara terus menerus ditingkatkan pada semua lini mulai dari top management sampai crew di kapal. Penekanan pada kurangnya komunikasi dan pengetahuan adalah sebagai pembelajaran bersama. [Ir. Sjaifuddin Thahir, MSc.]

Share Button

Comments

comments

Translate »