Bollard Pull Test

Bollard pull test (istimewa)
Bollard pull test (istimewa)

| Lautindo | Opini | Thahir* | Beberapa saat yang lalu saya sempat diskusi dengan beberapa kawan di lapangan dan galangan kapal soal pengujian bollard pull test. Mereka menanyakannya untuk memastikan apakah bollard pull test yang dilakukan selama ini telah sesuai dengan ketentuan badan klasifikasi atau belum. Mereka juga ingin menguji sendiri sebelum mengundang surveyor dan hasilnya akan dibandingkan. Melalui kesempatan ini, saya kembali berbagi sesuai pengalaman saya dan berdasarkan buku klasifikasi yang saya abaca perihal bagaimana bollard pull test harus dilakukan.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa kapal penarik, misalnya Tug Boat, AHT, AHTS, harus sudah dirancang mempunyai kestabilan yang handal (hal ini dibuktikan dengan stability booklet yang sudah mendapatkan approval dari badan klasifikasi). Demikian juga kapal penarik tersebut harus mempunyai kondisi yang handal dalam posisi mengalami heeling atau trim terhadap operasi penarikan kapal yang ada di belakangnya.

Bagaimana dengan ketentuan sarat air kapal?. Sarat air kapal penarik sesuai ketentuan badan klasifikasi minimal harus sama dengan atau lebih besar dari sarat dalam kondisi kapal dengan ballast, tidak boleh lebih kecil dari tanda garis muat musim panas (sesuai load line mark).

Kadang kala seorang surveyor karena keterbatasan lingkungan galangan kapal, diburu waktu, dll, akhirnya memutuskan untuk melakukan bollard pull test dengan kondisi apa adanya. Namun ini tergolong dan dapat dikatakan kurang begitu efektif. Kedalaman air di tempat pengujian yang di bawah lunas kapal dan lebar air di bawah kapal harus bebas dari benda atau apapun di setiap sisi kapal dimana harus setidaknya dua kali dari sarat kapal penarik pada bagian tengah-tengah kapal kapal. Hal ini kadang-kadang sempat terabaikan

Pengujian harus dilakukan pada perairan yang tenang dan tidak ada arus air. Kita harus memilihnya berdasarkan waktu. Oleh karena itu bollard pull test tidak dapat dilakukan setiap saat. Bagaimana halnya bila tidak memungkinkan?. Jika terdapat arus air mempunyai kecepatan melebihi 1 knot, maka harus dilakukan tindakan koreksi-koreksi terhadap hasil dari bollard pull test. Hal ini masih bisa ditolerir.

Jarak dari buritan kapal penarik ke bollard pull point (titik tetap) di darat harus setidaknya dua kali panjang kapal. Misalnya tug boat dengan panjang 36 meter maka jaraknya minimal adalah 72 meter. Kecepatan angin harus sama atau kurang dari 10 mph. Kondisi laut harus tenang. Pernyataan kapten kapal atau perwakilan pemilik kapal bahwa baling-baling yang dipasang sudah mendapatkan approval dari badan klasifikasi untuk kapal tersebut. Hal ini dibuktikan saja dengan menunjkukkan bukti approvalnya.Pemilik kapal harus yakin semua konstruksi harus handal termasuk towing hawser kapal, towing winch atau tow bitt yang digunakan selama proses pengujian bollard pull mempunyai kecukupan konstruksi. Buku Stabilitas kapal harus dilampirkan kondisi pengujian bollard pull.

Dynamometer (load cell) yang digunakan untuk bollard pull test harus sudah terkalibrasi (dengan bukti kalibrasinya) dan dapat digunakan dalam posisi Tarik horizontal dan harus dilengkapi dengan swivel atau sensitive terhadap adanya torsi. Dapat dibaca dari lokasi yang aman dari pengaruh penarikan atau pembacaan dari jarak jauh harus dapat dilakukan. Perangkat pencatat yang melakukan pencatatan secara terus-menerus disarankan akan tetapi tidak diwajibkan. Disarankan skala pembacaan maksimum setidaknya sama dengan MCR (dalam HP) × 24,5kg (54 lbs). Dynamometer harus terletak pada ujung bagian darat dari tambang kapal derek. Mesin induk kapal tidak harus beroperasi dalam kondisi overload. Pengaturan over-speed dari engine harus diverifikasi terlebih dahulu sebelum memulai pengujian bollard pull dan dipantau selama pengujian. Itulah perlunya verifikasi awal sebelum bollard pull test.

Setelah selesai, Bollard Pull test harus dihitung rata-ratanya dari beberapa catatan beban dalam interval tarik tiga sampai lima menit. Jika tambang penarik kapal tidak dalam posisi horisontal, sudut tambang tambang harus menjadi pertimbangan yang digunakan untuk mendapatkan tarikan horisontal yang sebenarnya. Suhu mesin harus dalam kondisi steady state selama bollard pull test. Mesin harus dioperasikan kondisi MCR.

  • Maximum Continuous Rating or MCR: It is the maximum power output engine can produce while running continuously at safe limits and conditions.

Berapa sih jumlah surveyor yang dibutuhkan?
1. Dibutuhkan minimal dua Surveyors saat melakukan bollard pull test, satu surveyor bertugas di darat dan satu surveyor bertugas di kamar mesin. System komunikasi dua arah harus disediakan untuk proses bollard pull test.
2. Ketika survei dilakukan pada bollard pull test awal untuk kapal bangunan baru, maka dapat dipertimbangkan melakukan bollard pull test dengan satu Surveyor saja di ruang mesin, dengan catatan perangkat perekaman yang terus menerus harus sudah dikalibrasi merekam bollard pull test.
3. Bila ada relaksasi atau pengurangan persyaratan adanya dua Surveyor maka harus diajukan permintaan tertulis. [*Ir. Sjaifuddin Thahir, MSc. adalah Founder dari Thahir Maritime Center]

Sebagai referensi dibawah ini dari marin.nl

Comments

comments

Translate »