promosyon promosyon powerbank http://mrnreklam.com.tr promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon Buble Technology Hemat 15% Bahan Bakar Kapal – LAUTINDO

Buble Technology Hemat 15% Bahan Bakar Kapal

Green ships

| LAUTINDO | SHIPS | JAKARTA | Mengurangi konsumsi bahan bakar kapal adalah harapan bagi semua pemilik kapal. Karena biaya bahan bakar saat ini sangat mencekik pada pengusaha kapal. Pengurangan emisi bahan bakar kapal yang dapat menghasilkan karbon (CO2) adalah cita-cita negera-negara yang tergabung dalam IMO. Oleh IMO hal ini memang menjadi keprihatinan. Kedua hal tersebut menjadi keperihatinan dunia pelayaran kapal. Dimana kapal yang diperasikan berkontribusi menciptakan emisi dari kapal. Termasuk emisi kapal-kapal yang beroperasi di Indonesia. “Buble Technology Hemat 15% Bahan Bakar Kapal”.

Para disainer kapal di dunia dan para praktisi perkapalan dunia telah banyak melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan dengan tujuan untuk dapat mewujudkan cita-cita IMO dan perkapalan dunia yaitu apa yang disebut dengan “green ship”. Lembaga-lembaga penelitian di Indonesia diharapkan oleh pelayaran nasional Indonesia untuk bisa membantu memberikan solusi. Misalnya dengan koordinasi dari Kementerian Koordinator kemaritiman dan Sumber Daya Energi, perlu mendorong Kementerian perindustrian, Kementerian KLH, Kementerian pendidikan, lembaga pendidikan yang memiliki Fakultas Teknologi Kelautan – Jurusan Teknik Perkapalan seperti ITS, UNHAS, UNDIP, UNPATI dan yang terkait, BPPT, LIPI dan Badan klasifikasi yang ada di Indonesia diharapkan juga dapat berkontribusi akan temuan dan teknologi apa yang dapat menjawab persoalan-persoalan pelayaran kapal untuk penghematan energy dan pengurangan emisi dari kapal.

Misalnya, mulai dari sumber energy terbarukan atau sumber energy alternative yang dapat dimanfaatkan pada kapal sampai dengan bagaimana merancang dan memodifikasi disain kapal. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa industri perkapalan dunia telah terus-menerus meningkatkan produk teknologinya dan selalu menyempurnakannya setiap saat untuk kepentingan bisnis pelayaran kapal yang berkelanjutan. Tentunya sebagai Negara maritime, ahli-ahli kapal di Indonesia juga harus melakukan hal yang sama.

Sampai saat ini belum ada produsen mesin kapal dari Indonesia. Untuk itu kita harus belajar dari Negara produsen mesin kapal. Bahan bakar kapal sekarang ini dikenalkan dengan menggunakan LNG, mesin-mesin kapal juga dikenalkan dengan menggunakan dual fuel dan modifikasi desain kapal saat ini sedang dieksplorasi oleh para disainer kapal dan konsultan disain kapal dalam rangka untuk mengurangi biaya operasional kapal yang membebani pengusaha kapal dan disainer kapal berusaha untuk menemukan teknologi dan cara-cara pengoperasian kapal yang ramah lingkungan dan memenuhi peraturan lingkungan laut IMO yang semakin ketat. Ada satu teknologi atau metode yang digunakan dalam kapal dan diperkenalkan pada industri perkapalan yaitu air lubrication (pelumasan lambung kapal dengan udara) disingkat pelumasan udara.

Apa itu pelumasan udara pada lambung kapal?
Pada era 1983-1990an, gelembung pada permukaan lambung kapal sangat ditakuti oleh para disainer kapal, karena gelemebung yang pecah akibat tekanan hidrostatis di permukaan kapal dapat menjadi ekplosive pressure. Disinyalir gelumbung-gelembung tersebut dapat menciptakan bopeng-bopeng pada permukaan kapal. Namun saat ini sudah tidak lagi ketakutan akan hal ini. Sistem pelumasan udara pada lambung kapal ini adalah suatu system atau metode yang dimaksudkan untuk dapat mengurangi tahanan (resistance) kapal antara konstruksi kulit lambung kapal yang tercelum di bawah garis air dan air laut. Teknologi ini menggunakan dan memanfaatkan gelembung-gelembung udara yang disebarkan.

Pemanfaatan gelembung udara ini dikenal sebagai “Bubble technology”, teknologi ini bekerjanya dengan prinsip mensupply dan memasok udara yang sengaja disebarkan pada bagian bawah lambung kapal. Hasil dari pensupplian udara ini dapat menciptakan lapisan gelembung-gelembung berukuran kecil yang akan dapat membantu mengurangi gaya gesekan antara lambung kapal yang tercelup di bawah air dan air laut. Proses penyebaran gelembung-gelembung udara pada permukaan konstruksi kulit lambung kapal diharapkan dapat mengurangi hambatan atau ship resistance pada lambung kapal, dan dapat menciptakan efek hemat energi. Katakanlah sebagai bantalan lambung kapal.

Melalui proses disain, preliminary design sampai dengan final design, maka desain lambung kapal yang tepat dan sesuai dengan kecepatan kapal yang diharapkan, maka sistem pelumasan udara ini diperkirakan dapat memberikan kontribusi pengurangan emisi CO2 dan termasuk penghematan yang signifikan atas penggunaan bahan bakar solar kapal hingga mencapai 10% s/d 15%.

Di dunia ini terdapat teknologi yang diciptakan oleh peneliti dari Norwagia namanya Silver-stream Technologies. Teknologi ini dicobakan dipasang pada kapal milik Norwegian Cruise Line. Teknologi pelumasan udara ini ternyata sangat sistematis dan dapat menghasilkan penghematan yang sangat efektif. Silver-stream Technologies adalah teknologi penyebaran gelembung udara pada kapal. Setelah proses penelitian yang cukup panjang, Silver-stream Technologies dipasang ke kapal pertama kali di dunia untuk kepentingan komersial hasilnya dapat meningkatkan efisiensi operasional kapal dan mengurangi emisi pada lingkungan laut. Teknologi ini sebagai sarana untuk mengurangi biaya bahan bakar kapal, dan meningkatkan operasi kapal yang keberlanjutan. The Silver-stream sistem dapat menghasilkan lapisan gelembung kecil (mikro) yang tipis dan menciptakan semacam ‘karpet udara’ sepanjang lambung kapal.
Hal ini dapat mengurangi tahanan gesek antara air laut dan lambung kapal dan meningkatkan efisiensi operasional kapal, mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi yang terkait. Teknologi ini tentunya dengan mudah dapat diaplikasikan pada kapal-kapal bangunan baru. Teknologi ini bila diaplikasikan dan dipasang pada kapal bangunan lama, katanya akan membutuhkan waktu pemasangan selama kurang lebih 14 hari. [Ir. Sjaifuddin Thahir, MSc.]

Share Button

Comments

comments

Translate »