promosyon promosyon powerbank http://mrnreklam.com.tr promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon BW SAP TEKNOLOGI UNTUK MENCEGAH TERJADINYA DISPARITAS HARGA – LAUTINDO

BW SAP TEKNOLOGI UNTUK MENCEGAH TERJADINYA DISPARITAS HARGA

| Lautindo | Jakarta | Penurunan disparitas harga di Indonesia Timur melalui tol laut yang diklaim oleh Menteri Kordinator Maritim dan Sumber Daya  Rizal Ramli  [baca: Tol Laut Turunkan Disparitas Harga Kebutuhan Pokok di Indonesia Timur] mendapat sorotan dari para pelaku dalam bidang Supply Chain Indonesia, termasuk Tedy Laksmana yang bermukim di Australia. BW SAP TEKNOLOGI UNTUK MENCEGAH TERJADINYA DISPARITAS HARGA.

Dan agar masalah penurunan disparitas harga ini bisa dituntaskan, Rudy Sangian salah seorang pakar pelabuhan dari SCI mengusulkan supaya dilakukan debat terbuka secepatnya. [Baca:  Upaya Menurunkan Disparitas Harga di Indonesia Timur. Rudy Sangian: Debat terbuka Diperlukan]

Sebagai bahan masukan bagi Kemenko Maritim dan pihak-pihak terkait, Rudy menyodorkan konsep BW SAP Technology. BW SAP Technology adalah suatu metodologi yang telah diterapkan oleh produsen komoditi sekunder untuk mencegah terjadinya Dispariti Harga barang.

Ekosistem dan supply chain di mana pelabuhan sebagai hub bongkar muat dan delivery receiving channel memerlukan BW SAP Technology agar disparity commodity price tidak terjadi.

Dalam riset yang dilakukan Rudy pada salah satu produsen komoditi sekunder, dan sekarang sedang melakukan Relokasi Data Center untuk perangkat teknologinya (BW SAP Technology), Rudy  berdiskusi  langsung dengan para petinggi perusahaan untuk mengetahui apa yang dilakukan perusahaan untuk mengatasi disparitas harga dimana peroduk perusahaan  tersebar dari Sabang hingga Merauke. “Diskusi ini memungkinkan saya memiliki pandangan peta-kompli Tol Laut” Rudy menjelaskan.

Sudah tepatkah Kebijakan pemerintah terhadap subsidi dana PSO trilyunan rupiah pada Ocean Freight Program Tol Laut ? Sebab  sekalipun biaya angkut ditanggung 100%,  tidak bisa menjamin hilangnya dispariti harga, artinya,  tidak hanya menekan Biaya Angkutan Laut.

Latar belakang pemahaman Rudy adalah seperti pada gambar di bawah ini.

tol-laut-a

Jika kebijakan pemerintah hanya menjamah Vessel Carrier dari POO (Port of Origin) ke POD (Port of Destination) dan mengabaikan supply chain pada alur Inbound & Outbound maka itu tidak akan memberikan jaminan hilangnya Disparitas Harga.

BIAYA TRILYUNAN RUPIAH

Biaya pembuatan  BW – SAP Technology jika dibandingkan dengan trilyunan rupiah subsidi dana PSO Tol Laut ditinjau dari Cost Benefit Analysis benar-benar tidak seimbang. “Saya yakin Subsidi trilyunan Dana PSO Tol Laut akan selalu menjadi habis terpakai oleh Pelni sebagai Operator Tol Laut. Dan Disparitas Harga tidak akan hilang sekalipun Kapal Pelni membuat 3 in one, yakni: kapal bisa muat penumpang, bisa muat barang/ roro dan petikemas”. Tulis Rudy.

Dia tambahkan bahwa biaya, OPEX – Manage Service Cost untuk BW – SAP Technology hanya berkisar double-digit milyar rupiah per tahunnya untuk seluruh Indonesia (dari Sabang s/d Merauke).

Metode  BW – SAP Technology untuk disparitas harga ini dibuat karena perusahaan produsen komoditi ini sudah menggunakan SAP Technology. Tinggal ditambah berbagai berbagai fitur yang diperlukan untuk disparitas harga.

Tentu masih banyak teknologi pendukung lainnya yang lebih murah. Yang penting kita paham mengenai metodologi supply chain dan disparitas harga serta komponen Biaya Logistiknya termasuk business process kepelabuhanan yang bertujuan untuk tercapainya sebuah Port Supply Chain yang efektif dan efisien seperti pada gambar alur di atas. Dengan demikian dari Shipper ke Consignee diharapkan terjadi percepatan waktu dan penghematan biaya.

DTMP SOLUSI UNTUK MENEKAN COST OF LOGISTIC

“DTMP (Digital Transportation Market Place) yang akan dibangun pada produsen komoditi sekunder akan lebih lagi menciptakan efisien Coordination Plan berdasarkan ASN (Advance Shipment Notification) yang disampaikan secara elektronik pada pagi hari dan ditutup pada end of day di masing-masing DC (Distribution Center) yang tersebar dari Sabang s/d Merauke termasuk Coordination Plan yang melibatkan beberapa pihak pada Port Clearance dan Customs Clearance untuk importasi raw material di Manufacture Network”. Tambah Rudy.

Lautindo Rudy SangianApa artinya? Rudy menjelaskan bahwa  supply chain-nya dilihat dari sudut pandang Port Centric dan bukan hanya dari sudut pandang manufaktur sebagai porosnya sebagaimana digambarkan di atas. Dengan demikian totalitas mata rantainya menjadi controllable dan predictable.

Berdasarkan kajian dan implementasi maka keyakinan Rudy adalah anda tidak akan bisa mendapatkan trafik bisnis jika DTMP diprakarsai oleh sebuah perusahaan transportasi (perusahaan truk atau perusahaan pelayaran), warehouse operator, port operator, dan apalagi Pihak Pemerintah sebagai Regulator untuk konektivitas Tol Laut.

Penetrasi pada DTMP agar para pihak mau terlibat harus dimulai dari Trusted Closed Group ke Trusted Closed Group lainnya yang dijalankan secara terpisah; dan pada suatu titik pertumbuhan tertentu dengan kesepakatan tertentu melalui Cloud Computing Methodology menjadi Digital Market Place sehubungan dengan perilaku kompetisi, kompetitor dan sebagainya.

Bottleneck Penetration berpotensi terjadi saat mereka tahu anda adalah player dan akhirnya DTMP macet dan CAPEX yang sudah dikeluarkan tidak akan kembali.

PROGRAM TOL LAUT

Program Tol Laut ini adalah program utama pemerintah agar (1) Biaya Logistik turun dan (2) tidak terjadi Disparitas Harga.

Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 93 TAHUN 2013 Tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut menyebutkan pentingnya masukan Kepala Daerah setempat (Gubernur, Bupati/ Walikota), para asosiasi dan lainnya agar Trayek Kapal dapat ditetapkan. Selanjutnya Perusahaan Angkutan Laut Nasional membuat RPK (Rencana Pengoperasian Kapal) dengan melampirkan dokumen muatan kapal dan dokumen lainnya.

Aspek legal Permen tersebut di atas dan kesejajarannya Pelni adalah sebagai Operator Kapal Tol Laut maka seyogianya Load Factor Ratio pada penyelenggaraan program Tol Laut ini merupakan pekerjaan inti Pelni.

Yang dimaksud dengan Load Factor Ratio adalah Keseimbangan permintaan pengiriman barang dan ketersediaan ruang Kapal Tol Laut sehingga terjadinya sebuah trayek yang diatur oleh Rencana Pengoperasian Kapal Tol Laut yang dipengaruhi oleh:

  1. Pengembangan Pusat Industri
  2. Perdagangan
  3. Pariwisata
  4. Keterpaduan intra dan antarmoda transportasi

Filosofi port follows the trade and so creating no disparity price and reduce cost of logistic adalah peranan utama Pelni sebagai Operator Kapal Tol Laut untuk menunjukan data-data pertumbuhan ekonomi setempat, perdagangan serta tingkat mobilitas penduduk yang menggambarkan potensi kebutuhan pengiriman Tol Laut melalui perkiraan Load Factor di atas dan berkesinambungan menjadi efisien melalui kehandalan menstrategikan secara elastisitas subsidi dana PSO.

Dikatakan elastisitas subsidi dana PSO karena sekalipun bersifat Tugas Negara namun pengelolaannya tidak luput secara bisnis untuk menutup defisit operasional yang dinamis dari waktu ke waktu menggunakan dana PSO.

Masih berpotensi ‘diperdebatkan’ bahwasannya dalam program Tol Laut itu terjadinya Disparitas Harga dan bahkan Biaya Logistik jadi tinggi yang disebabkan oleh karena permasalahan infrastruktur pelabuhan beserta supra strukturnya.

Pelni sebagai Operator Kapal Tol sebagaimana secara high level tekstual narasi di atas sudah dijabarkan maka Load Factor Ratio yang dikerjakan Pelni di atas justru dapat menjelaskan mengenai kendala-kendala dimaksud agar Kemenhub atau Pemerintah Pusat dapat mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalah infrastruktur pelabuhan beserta supra strukturnya.

PERBANDINGAN OCEAN FREIGHT DENGAN TARIF PELABUBAN
Memperhatikan tabel Perbandingan harga komoditas di Namela yang bersumber kepada Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Sumberdaya, dapat dibandingkan melalui contoh tarif ongkos Bongkar Muat gula sekitar Rp. 200.000/ton (untuk 2 pelabuhan karena terjadi OPP/OPT) atau cuma Rp. 200/kg.. Bandingkan dengan Ocean Freight pada tabel di atas yg berkisar Rp. 15.000/kg.

ELASTISITAS SUBSIDI PSO
Sekali jalan Bay Kapal bisa terisi penuh atau kurang penuh atau bahkan kosong. Dinamika muatan kapal ini berpengaruh pada elastisitas penggunaan Dana PSO untuk memberi subsidi atas tetap berlangsungannya operasional pengiriman barang; tidak peduli apakah kapal penuh, kurang penuh bahkan kosong untuk digiring ke Pelabuhan Asal kembali mengangkut barang/ container yang telah menunggu lama di gudang atau di Lini 1 pelabuhan yang tidak luput dari biaya2 pelabuhan yang semakin lama semakin bengkak biayanya.
Jika manajemen Operator Kapal Tol Laut tidak handal maka elastisitas penggunaan dana PSO itu keburu habis dan Program Tol Laut terhenti di tengah jalan, sementara masyarakat tidak mau tahu bahwa ini merupakan janji pemerintah sewaktu kampanye dulu bahwa Tol Laut dapat membuat harga barang murah, tidak ada disparitas harga dan Biaya Logistik turun.

Share Button

Comments

comments

Translate »