DR. Rizal Ramli- Pemerintah akan Kembangkan Blok Masela dengan Membangun Kilang LNG di Darat

 572146_08593708112015_rizal_ramli

Jakarta – Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya DR. Rizal Ramli menyatakan, pemerintah

Indonesia akan mengembangkan lapangan abadi blok Masela dengan skenario pembangunan kilang

LNG di darat (on shore).

“Keputusan itu diambil setelah dilakukan pembahasan secara menyeluruh dan hati-hati, dengan

memperhatikan masukan dari banyak pihak. Pertimbangannya, pemerintah sangat memperhatikan

multiplier effects serta percepatan pembangunan ekonomi Maluku khususnya, dan Indonesia Timur

pada umumnya,” ujar Rizal Ramli, Senin (22/02).

Dalam berbagai kesempatan Presiden Joko Widodo selalu memberi arahan, bahwa Presiden ingin

melaksanakan konstitusi dengan konsekwen. Terkait pemanfaatan sumber daya alam (SDA) yang

sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, Presiden Jokowi juga berkali-kali menegaskan,

pemanfaatan ladang gas abadi Masela tidak sekadar sebagai penghasil devisa, tetapi juga harus

menjadi motor percepatan pembangunan ekonomi Maluku dan Indonesia Timur.

Berdasarkan kajian Kemenko Maritim dan Sumber Daya, biaya pembagunan kilang darat (onshore)

sekitar US$16 miliar. Sedangkan jika dibangun kilang apung di laut (ofshore), biayanya mencapai

US$22 miliar. Dengan demikian, kilang di darat US$6 miliar lebih murah dibandingkan dengam kilang

di laut.

Angka ini sangat berbeda dengan perkiraan biaya dari Inpex dan Shell. Mereka menyatakan,

pembangunan kilang ofshore hanya US$14,8 miliar. Sedangkan pembangunan kilang di darat,

mencapai US$19,3 miliar.

“Inpex dan Shell telah membesar-besarkan biaya pembangunan kilang di darat. Sebaliknya, mereka

justru mengecilkan biaya pembangunan di laut. Untuk memastikan kebenarannya, kita tantang

mereka. Jika ternyata biaya pembangunan di laut membengkak melebihi $14,8 milyar, maka Inpex

dan Shell harus bertanggungjawab membiayai kebihanannya, tidak boleh lagi dibebankan kepada

cost recovery. Faktanya Inpex tidak berani. Ini menunjukkan mereka sendiri tidak yakin dengan

perkiraan biaya yang mereka buat,” papar Rizal Ramli.

Dalam kaitan ini, Pemerintah Indonesia memang bersikap hati-hati. Pemerintah juga belajar dari

pengalaman pembangunan kilang ofshore di Prelude, Australia, yang mengalami keterlambatan dan

pembengkakan biaya cukup besar. Prelude telah menghabiskan biaya $12,6 milyar. Padahal

kapasitasnya hanya 3,6 juta ton/tahun, 48% dari Kapasitas Masela (7,5 juta ton/tahun).

Menurut Rizal Rami yang juga Menteri Keuangan di era Presiden Abdurrahman Wahid, seandainya

pembangunan kilang dilaksanakan di laut, maka Indonesia hanya akan menerima pemasukan

US$2,52 miliar/tahun dari penjualan LNG. Angka itu pun diperoleh dengan asumsi harga minyak

US$60/barel. Sebaliknya dengan membangun kilang di darat, gas LNG itu sebagian bisa dimanfaatkan

untuk industri pupuk dan petrokimia. Dengan cara ini, negara bisa memperoleh revenue mencapai

US$6,5 miliar/tahun.

“Inilah yang menjelaskan mengapa Presiden menginginkan pembangunan kilang Masela di darat.

Beliau sangat memperhatikan manfaatnya dan multiplier effect-nya yang jauh lebih besar

dibandingkan jika kilang dibangun di laut. Dengan pembangunan kilang di darat, akan lahir industri

pupuk dan petrokimia. Kita bisa mengembangkan kota Balikpapan baru di Selaru yang berjarak 90 km

dari Blok Masela,” ungkap Rizal Ramli.

Apalagi banyak tokoh2 masyarakarat dan rakyat Maluku yang menginginkan agar kilamg Masela

dibangun di darat untuk mempercepat pembangunan Maluku. Dukungan yg sama yg juga diberikan

oleh Ketua MPR, DPD and anggotta2 BPK.

Menko Maritim juga menilai kekhawatiran Inpex akan keluar dari proyek pengembangan Blok Masela

sangat berlebihan. Pasalnya, Inpex sudah mengabiskan waktu bertahun-tahun dan investasi sekitar

US$2 miliar. Perusahaan itu tidak akan meninggalkan Blok Masela yang memiliki cadangan lebih dari

20 tcf (trilion cubic feet). Dengan asumsi diproduksi 1,2 juta kaki kubik/hari, maka cadangan bisa

dimanfaatkan sampai 70 tahun.

Itulah sebabnya, Inpex diyakini tidak akan keluar dari proyek ini. Namun jika ternyata Inpex benar-

benar keluar, maka banyak investor dari negara lain yang sangat berminat meneruskannya.

“Pemerintah Indonesia sangat menghargai hubungan strategis dan jangka panjang dengan Jepang.

Kita juga memahami kebutuhan Jepang akan sumber energi berjangka panjang yang reliable. Kita

percaya Inpex akan sangat berkepentingan dengan pembangunan kilang di darat yang jauh lebih

murah, dan menguntungkan Indonesia dan Jepang,” kata Rizal Ramli.

Share Button

Comments

comments

Leave a Reply

Translate »