Geliat Usaha Lele Bioflok Picu Meningkatnya Kebutuhan Pakan

Bioflok-Sleman-1-300x225| LAUTINDO | Perikanan | Sleman | Dalam rangkaian acara panen perdana budidaya sistem bioflok di Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Muhammadiyah Boarding School (MBS), Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto terus mendorong pengembangan pakan mandiri di sentral-sentral produksi. Slamet Soebjakto mengatakan, pakan mandiri ini nantinya akan diarahkan untuk menyuplai kebutuhan pakan bagi usaha lele bioflok. Ia optimis dengan dukungan pakan mandiri ini margin keuntungan yang didapat akan semakin besar. “Geliat Usaha Lele Bioflok Picu Meningkatnya Kebutuhan Pakan”.

“Paling tidak dengan penggunaan produk pakan mandiri, nantinya usaha lele bioflok akan mendapat nilai tambah semakin besar minimal Rp1.500 per kilogram hasil produksi. Jadi kalau dikalkulasi dari produksi ikan per unit 3,6 ton, maka ada tambahan pendapatan minimal 5,4 juta per siklus,” jelas Slamet saat mengunjungi salah satu kelompok Gerakan Pakan Mandiri (Gerpari) di Kabupaten Sleman, usai kegiatan panen perdana di Ponpes MDS.

Baca Juga : Panen Perdana Lele Bioflok Memuaskan, KKP Optimis Tingkatkan Ekonomi Umat

Salah satu kelompok Gerpari yang mendapat dukungan KKP adalah kelompok Ngupoyo Mino yang berlokasi di Desa Tegaltirto, Kecamatan Berbah, Sleman. Kelompok tersebut saat ini mampu memproduksi pakan mandiri rata-rata sebanyak 200 kg per hari atau 4.000 kg per bulan, di mana produknya digunakan untuk menyuplai kebutuhan pakan bagi pembudidaya ikan di Kabupaten Sleman dan sekitarnya.

“Geliat usaha lele bioflok saat ini dipastikan juga akan memicu meningkatnya kebutuhan pakan. Oleh karenanya kami siap bekerjasama untuk suplai kebutuhan pakan,” tegas Suharyanto, Ketua Kelompok Ngupoyo Mino saat dimintai keterangan.

Share Button

Comments

comments

Translate »