HERLINA Pejuan Kemanusiaan, Pengalaman Di Rimba Morotai

Herlina dalam persiapan Operasi TRIKORA [operasidwikora.blogspot.co.id]
Herlina dalam persiapan Operasi TRIKORA [operasidwikora.blogspot.co.id]

| LAUTINDO | TOKOH | JAKARTA | Kamis pagi, saya buka Facebook. Pada status sahabat Maria Andriana terbaca berita; Herlina, sang Pending Emas telah tiada. Air mata saya berlinang. Dalam sekejap seakan semua peristiwa yang kami alami bersama kembali berputar di depan mata.
Bulan depan dia berulang tahun, genap 76 tahun, sebuah usia yang cukup, yang padat dengan perjuangan. Tahun 1991 ulang tahunnya yang ke 50 kami rayakan di sebuah hotel di Ternate. Tak banyak yang hadir, selain kami berempat dari Jakarta dan beberapa teman Herlina di Ternate. Dia sendiri tak suka merayakan ulang tahunnya itu. Tapi saya bilang, ini sebuah penghormatan. Bertambah usia itu adalah karunia Tuhan. Maka siang hari itu kami disuguhi makanan ekstra di hotel, termasuk buah duren yang lezat.
Kami baru saja menyelesaikan sebuah missi kemanusiaan di rimba raya Morotai. Berdua kami memimpin pemuda-pemuda local yang secara sukarela mengikuti kami melacak sisa-sisa tentara Jepang yang masih berkeliaran di rimba raya Morotai. Dari Daruba, kami naik perahu menyusuri pantai menuju Desa Ciu. Lalu berjalan kaki menuju hutan. Sepanjang sungai terdapat kebun-kebun coklat, dari mana kami diberi tahu bahwa mereka sering kehilangan, tapi benda-benda yang tak berarti seperti garam dan pakaian. Beberapa orang menyatakan acap kali berpapasan dengan seorang tua yang lincah memakai tongkat panjang yang dipakai juga sebagai penopang meloncati parit dan hilang dikegelapan hutan.

Herlina Menerima Penghargaan dari Soekarno [operasidwikora.blogspot.co.id]
Herlina Menerima Penghargaan dari Soekarno

Saya dan Herlina terus merangsek masuk hutan belantara. Kami membawa selebaran-selebaran anti air dengan tulisan dan bahasa Jepang yang kami pasang di hutan: Perang telah selesai. Kalian bisa pulang ke rumahmu di Jepang. Kami akan membantumu pulang.
Seorang perempuan petani melihat orang tua itu masuk ke pinggiran desa. Desa ini dulu pernah kedatangan satu rombongan perwira Jepang termasuk dokternya minta bantuan. Mereka dipulangkan Palang Merah Internasional. Menyusul penyergapan terhadap Nakamura di desa dekat muara sungai lokasi kandasnya kapal Violetta.
Tentu saja, dari berbagai kesaksian diduga saat itu masih hidup Jenderal Matsuoka, panglima tentara Jepang di Morotai. Jenderal Matsuoka diketahui melarikan diri masuk hutan bersama sepasukan pengawalnya. Pelayan Jenderal Matsuoka yang kami temukan, Lanoni membetulkan peristiwa mendaratnya Sekutu langsung di bawah Jenderal Donald Mac Arthur membuat Matsuoka terburu-buru melarikan diri ke hutan.
“Saya kemudian diambil Jenderal Mac Arthur menjadi pelayannya juga,” ujarnya . Maka dalam sekejap Lanoni menjadi pelayan dua jendera besar yang saling bermusuhn dalam Perang Pasifik itu, Matsuoka dan Mac Arthur. Untuk mengadakan pengecekkan terhadap keterangan Lanoni, saya pun menyewa perahu menuju Pulau Sumsum di depan Kota Daruba. Ternyata Herlina tidak mau ditinggalkan sendiri. Dia pun meloncat ke perahu yang saya kemudikan sendiri.
Bunker Mac Arthur masih bisa dimasuki. Kran yang dari kuningan sudah hilang, tapi pipa ledengnya tergeletak di lantai bunker. Anggrek banyak tumbuh sekeliling sini. Ada anggrek tanah dan ada pula anggrek bulan. Sebuah jeep (battle jeep) rusak yang mirip inventaris saya ketika masih di KKO yang diperoleh dari eks Perang Korea. Di Pulau ini ada pula KAPA (Kendaraan Amphibie Pengangkut Arteleri). Dan beberapa ponton.
Menurut Lanoni, Mac Arthur biasa menggunakan jeep itu, tetapi bila akan menyeberangi laut menuju lapangan terbang di Daruba, ia menggunakan sedan putih berjalan di atas ponton yang menghubungkan dua pulau itu.
Ketika naik perahu menyusuri Pulau Morotai bagian barat bersama Herlina, kami memang menyaksikan tiang kapal mencuat dari muara sungai. Kapal ini adalah kapal Violetta, milik Marine Belanda yang ditawan Jepang dan dijadikan kapal komando oleh pihak Jepang. Terakhir Jenderl Matsuoka terlihat bergegas menaiki kapal itu berniat menyusuri sungai sampai ke pedalaman. Tapi kedangkalan sungai menghambat mereka maju, dan di situlah kapal itu kandas.

Nakamura, tentara Jepang eks Perang Dunia kedua yang bersembunyi puluhan tahun di hutan Morotai saat ditangkap TNI (dok)
Nakamura, tentara Jepang eks Perang Dunia kedua yang bersembunyi puluhan tahun di hutan Morotai saat ditangkap TNI (dok)

Ada petunjuk rombongan pertama yang keluar dari hutan dan menyusul Nakamura yang disergap adalah pengawal Jenderal Matsuoka. Seorang petani mengatakan, dulu ketika mereka masuk hutan mencari damar menemukan sesosok mayat bermata biru. Matsuoka memang bermata biru, blasteran Jepang dan Jerman. Orang Morotai memanggil sang Panglima dengan sebutan Si Mata Kucing.
Kisah yang disampaikan rakyat ini tentu saja membuat Herlina menjadi penasaran, Dia memang perempuan perkasa tak pernah putus asa, selalu mencari pengalaman-pengalaman yang menantang. Sejak muda Herlina sudah berkeliling Indonesia naik sepeda. Bung Karno yang mendengar petualangan Herlina yang cucu seorang Jenderl Jerman pada Perag Dunia I yang nikah dengan perempuan Madura di Probolinggo, lalu memnggil dia.
Jadilah Herlina sebagi Jamilah mahasiswi Aljazaire yang memimpin teman-temannya melawan kolonialisme. “Terjunlah di Irian Barat untuk negeri mu,” kata Bung Karno.
Pengalaman masa muda Herlina membuat dia kuat. Pada hal, dia sendiri semestinya hidup senang sebagai putri seorang pemilik kebun teh di pegunungan Tengger, Probolinggo, memiliki warisan yang banyak dan hanya tinggal menikmati saja. Tapi panggilan hatinya, petulangan dan rasa kemanusiaan, membuat dia tetap saja masuk keluar kampung, membeli hasil petani, tidak suka masuk ke mall dan menjadi Herlina bagi Indonesia yang sejati.
Herlina meminta saya melacak areal sekitar kandasnya Violetta. Saya lupa nama kampung itu, tapi di dekat sebuah rumah petani asal Bugis, banyak sekali saya temukan bekas lobang pertahanan invantri berukuran 1 x 1 x 1 meter. Banyak tengkorak, tulang belulang dan gigi kami dapatkan di sini. Saya memungut sebuah kancing baju dan juga kaca mata. Orang Bugis itu menangis sambil memungut gigi-geligi itu. “Mereka mati muda. Usia mereka tak lebih dari 15 tahun,” katanya. Herlina tertunduk. Dalam perang terkadang mereka – anak-anak muda ini -, tidak tahu, untuk siapa mereka berperang, dan untuk apa manusia berperang.
***

*Peter Rohi, Penulis dan wartawan senior