INDUSTRIALISASI INDONERSIA, NOW OR NEVER IT’S NOW OR NEVER EVER. BILA TIDAK SEKARANG TIDAK AKAN PERNAH BERKEMBANG.

 

Lautindo|Ekonomi|Jakarta – Salah seorang Ekonom senior Indonesia, Humala Oppusunggu mengingatkan pemerintah Indonesia untuk secepatnya action. Istilah yang dia gunakan adalah Now or Never.

“Perekonomian Indonesia didominasi oleh sektor primer: pertanian, peternakan, perikanan, sedang sektor industri diam di tempat saja, dan terdiri dari industri tradisional: Makanan dan Minuman, Tekstil dan  Pakaian, Bahan Kimiah Primer, Obat-obatan, Semen dan Barang-barang Konstruksi, Perabotan.” Demikian Oppusunggu yang sudah berusia 80 tahunan.

“Kalaupun kita memiliki industri dasar seperti Krakatau Steel, Inalum dan lainnya, produksinya terutama menjadi perpanjangan tangan dari industri di luar negeri saja.” Sambungnya.

Oppusunggu menyoroti industri mobil, peralatan modal dan mesin dan lainnya, umumnya hanya berbentuk perakitan dimana kadar impornya lumayan tinggi dan mahal. Asumsi kurs Rupiah paling melorot di dunia.

Kepada Lautindo, mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Nommensen Medan ini mengeluhkan industri kita yang umumnya masih jalan di tempat tanpa memperlihatkan  diversifikasi yang berkembang dinamis, seperti Korea, yang harta kekayaan alamnya relatif sangat miskin. Malahan Korea sudah sanggup menghasilkan mesin-yang-memproduksi-mesin, seperti RRT, dan Jepang.

“Di Korea, RRT atau Jepang, peran inustri-transformasi- metal (metal transforming industries) meliputi kegiatan-kegiatan yang sangat heterogen, seperti manufaktur dari produk-produk metal, mesin-mesin dan peralatannya serta alat-alat kelistrikan, alat-alat pengangkutan dan lain-lain. Industri-transformasi ini karena sifat khususnyas yang sangat kompeks dan canggih  memegang peran yang sangat strategis bagi perkembangan dinamis dan dewasa bagi sektor industri.” Oppusunggu menambahkan.

Di Indonesia industri transformasi-metal seperti ini  masih jauh ketinggalan dari yang berlangsung di Korea , RRT dan lebih-lebih lagi di Jepang. Namun, Indonesia bisa mengarah ke sana … KALAU PEMERINTAH BERSEDIA DAN  SECARA SADAR MAU MELAKSANAKANNYA.

Sebelumnya Oppusunggu yang cukup lama sebagai perwakilan IMF di Bangkok sebelum ditarik oleh HKBP ke Medan mempertanyakan ” MENGAPA FREEPORT NGOTOT MENJAJAH TAMBANG TEMBAGA DI PAPUA HINGGA 2041?” yang lantas dia jawaban sendiri  bahwa copper-transforming-industry , sebagai bagian integral dari metal-transforming-industry di Amerika Serikat merupakan forward linkage yang kokoh dari tembaga Papua.

Oppusunggu kembali bertanya dan memprotes “Mengapa Pemerintah selama 50 tahun, BISA DIKIBULIN TERUS OLEH FREEPORT sampai 2041 nanti!?!”

Inilah jawaban penulis buku-buku ekonomi yang sering bertentangan dengan ekonom yang menjadi bagian dari pemerintahan sebelumnya:

Pendek kata: Pemerintah seharusnya  tidak memperpanjang lagi Kontrak Karya Freeport setelah 2021 nanti. Kita bukan INLANDER lagi, kan, seperti yang diwanti-wanti oleh Kwik Kian Gie.  Pemerintah harus mengelola sendiri tembaga Papua demi terbentuknya forward- linkage copper-industry yang pada gilirannya menjadi bagian integral dari metal-transforming-industry di Negara kita sendiri. Kapan lagi bila tidak sekarang: NOW OR NEVER, NEVER, NEVER EVER.

Salah satu yang sangat perlu menjadi pertimbangan pemerintah adalah usulan Oppusunggu agar kurs Rupiah dipatok menjadi  Rp 6000 per Dollar bagi pembangunan smelter dan copper-industry dan industry yang baru lainnya.

Untuk menghilangka

n budaya korupsi sekarang ini, sedianya Menteri Keuangan (nomenklatur mana kami usulkan tempohari supaya diubah menjadi Menteri Finans atau Menteri Budget Negara) menyusun suatu system digital (on line) supaya setiap aparatur Negara atau lembaga yang menerima alokasi APBN dan menerima pajak, bea cukai dll, melaporkan setiap transaksi penerimaan pajak atau pembayaran uang APBN dilakukan on line dengan tembusan ke KPK.

 

PS:  Harap penerima email ini menyampaikan tembusannya kepada Pres. Jokowi.

24-3-2017.                                           hmt Oppusunggu. (email: humtiarti@hotmail.com)

 

 

Sent from Mail for Windows 10

 

Humala Oppusunggu

Mar 27 (3 days ago)
Share Button

Comments

comments

Translate »