promosyon promosyon powerbank http://mrnreklam.com.tr promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon ITBC: Konsorsium Percepat Proyek Perikanan dan Wisata Morotai – LAUTINDO

ITBC: Konsorsium Percepat Proyek Perikanan dan Wisata Morotai

Indonesian Taiwan Business Council (ITBC) akan menggunakan jalur konsorsium di Taiwan untuk mempercepat pelaksanaan proyek raksasa pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara.  Strategi gotong-royong konsorsium bilateral di Indonesia dan Taiwan diyakini efektif untuk percepatan pembangunan Morotai terutama di sektor perikanan dan  wisata bahari. “Kita akan tentukan nanti siapa yang lead (memimpin) konsorsium. Tapi kalau di sini (Indonesia), Jababeka yang lead,”  SD Darmono, pendiri ITBC mengatakan kepada Redaksi.

Proyek pembangunan Morotai, ibarat mendirikan negara seperti Singapura di kawasan Timur Indonesia. Pulau Morotai dalam kurun waktu 20 – 30 tahun sudah bisa setara dengan Singapura. Perencanaan pembangunan terpadu antara lain bandara, pelabuhan dan infrastruktur penting untuk menunjang kegiatan pariwisata dan industry perikanan. “Momentum pengembangan industry perikanan di Morotai sudah sangat tepat. Karena ibu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan) terus gencar memberantas illegal fishing. Sehingga Morotai menjadi pulau pilihan  untuk pengembangan industry perikanan baik budidaya maupun tangkap.”

Teknologi Taiwan sangat diharapkan untuk pengembangan Morotai khususnya sector perikanan. Pemerintah Indonesia juga sudah memberi keleluasaan  bagi investor Taiwan,  dengan pembukaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Motorai. Sementara itu, beberapa pengusaha Taiwan berharap ada insentif-insentif lain untuk investasi di Morotai. “Untuk itu, kami merasa perlu mengundang Presiden Jokowi (Joko Widodo) untuk meresmikan Morotai. Sehingga ada kesempatan menyampaikan permintaan investor Taiwan. Karena diharapkan semua pihak  bisa mendukung, kalau tidak, dikhawatirkan proyek berjalan lambat. Ini proyek raksasa, dan butuh dukungan yang besar juga.”

PT Jababeka Tbk (perusahaan pengembang kota baru) mewakili pemerintah Indonesia untuk proyek Morotai. Andrew Hsia, Kepala perwakilan Taiwan  menanda-tangani MoU (Memorandum of Understanding) dengan Pemerintah Indonesia untuk pembangunan proyek Morotai. Pihak Indonesia, diwakili mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menanda-tangani MoU pada pertengahan tahun 2013 yang lalu di Jakarta. “Pak Andrew Hsia, sekarang masih di pemerintahan, sehingga belum bisa mewakili (kerjasama) business to business. Anaknya, CS Hsia yang dipercaya untuk mengetuai ITBC Taiwan. Mereka juga kerja social, tapi bekerja keras untuk promosikan Morotai.” lanjut Darmono.

Sementara itu, Andrew Hsia mengatakan bahwa kementeriannya konsisten dengan kedaulatan Tiongkok dan kemartabatan Taiwan. Pertemuan antara (Presiden) Xi Jinping dan (presiden) Ma Ying-jeou di Singapura berdampak positip terhadap kedua negara/negeri. “Benefit harus juga  merembet ke Indonesia, termasuk perluasan kerjasama Indonesia dengan Taiwan seperti di Morotai,”

Kepala Kementerian Majelis Kepengurusan Daratan atau Mainland Affairs Council (MAC) Andrew Hsia (kanan) dan Direktur Utama PT Jababeka Tbk SD Darmono (kiri)

Terkait dengan keamanan cross strait (daratan Tiongkok) tetap bisa terjaga, bukan hanya dari hasil pertemuan kedua pemimpin, tetapi juga consensus 1992. Hal yang menjaga pegangan bukan lagi “One China Policy  (kebijakan Satu China) tetapi “One China, with respective interpretations.” (Satu China dengan masing-masing penafsiran). “Saya akui bahwa urusan terkait dengan Daratan bukan perkara mudah. Kerja keras kami juga bukan sekejab mata untuk mewujudkan prinsip ‘reciprocity and dignity’ (timbal balik dan kemartabatan). Sebelum pertemuan (kedua pemimpin di Singapura), saya temu dengan counter-part di Guangzhou untuk berbagai persiapan. Hasil dari pertemuan yakni status quo, dalam arti tidak ada unifikasi, tidak ada kemerdekaan dan tidak ada penggunaan senjata di bahwa kerangka konstitusi Republik Tiongkok.”

Taiwan kemungkinan melihat benefit (keuntungan) politik dan ekonomi paska pertemuan kedua pemimpin yakni Presiden Xi Jinping dan Presiden Ma Ying-jeou di Singapura awal Nopember yang lalu. Pertemuan kedua pemimpin tersebut bisa membuka interaksi yang lebih luas bagi Taiwan dengan negara lain. “Posisi Taiwan ke luar, interaksi dengan negara lain khususnya kawasan Asia Tenggara (Asean) akan semakin terbuka. Mereka (Taiwan) sadar bahwa potensi kerjasama (ekonomi) ada di Asia Tenggara,” ilmuwan politik dengan spesialisi politik internasional dan kebijakan luar negeri, Paramitaningrum mengatakan.

 

Pertemuan Presiden Xi dan “[Presiden Ma adalah sejarah. Karena pertemuan (7/11) di Singapura terjadi setelah proses pendekatan selama tujuh tahun. Pertemuan ini akan menandai pencairan kebekuan yang terjadi sejak tahun 1949. Hal ini berdampak dalam perspektif hubungan internasional, serta terhadap kebijakan politik ekonomi Indonesia. Pemilihan Singapura sebagai tempat pertemuan dianggap sangat menarik. Singapura semakin dipercaya oleh kedua belah pihak. Singapura mendapat pengakuan secara tidak langsung dari Tiongkok dan Taiwan. “Setiap negara di dunia tidak bisa berdiri sendiri. Posisi Taiwan kurang lebih sama, dan memang unik. Pasca pertemuan di Singapura, (Taiwan) semakin dekat ke Tiongkok. Tetapi di sisi lain, karena (ukuran) negaranya kecil, Taiwan gabung ke TPP (Trans-Pacific Partnership) yang dimotori Amerika. TPP kan untuk negara-negara kecil, seperti Singapura, Taiwan. Walaupun sebetulnya TPP beda tipis dengan APEC (Asia Pacific Economic Cooperation). Kalau negara besar seperti Indonesia, sebetulnya tidak penting bergabung dengan TPP. Tanpa TPP, kita sudah bisa.”

Setiawan Liu/Dharma Hutauruk 

Share Button

Comments

comments

Leave a Reply

Translate »