Continuous Corrective Action Kapal Tabrakan, Kandas dan Bocor

 

kri-makassar| Lautindo | Opini | Thahir* | Bagi industri pelayaran yang kapal yang mengalami tabrakan, kandas dan bocor adalah hal yang sering diucapkan dan terbiasa untuk mengatasinya. Namun bagi kita warga dan masyarakat maritime Indonesia terkadang belum mengetahui apa yang harus kita lakukan bila mana kapal kita mengalaminya. “Kapal Tabrakan, Kandas dan Bocor”.

Sebagai seorang kapten kapal atau Master sudah seharusnya dan wajib untuk memastikan bahwa ABK-nya sudah familiar, faham dan akrab dengan prosedur atau urutan yang harus dilakukan saat kejadian di kapalnya untuk menangani kapal tabrakan, kapal kandas atau kapal bocor.
Situasi dan kejadian di kapal tersebut akan sangat bervariasi dalam hal tingkat keparahannya tergantung pada dampak penumpang atau ABK yang mengalami cedera, besar kecilnya kerusakan pada kapal, apakah berdampak pada kapal lain dan berpotensi situasi akan menjadi lebih buruk.

Oleh karena itu penerapan ISM Code adalah sangat penting dan memegang kunci dalam mengahadapi kejadian tersebut. Ini dibuktikan apakah perusahaan memiliki Document of Compliance (DOC) dan kapal memeliki Safety management Certificate (SMC) yang diterbitkan oleh Pemerintah atau oleh Badan yang ditunjuk oleh Pemerintah atas implementasi ISM Code, yang salah satunya menyatakan;

INTERNATIONAL MANAGEMENT CODE FOR THE SAFE OPERATION OF SHIPS AND FOR POLLUTION PREVENTION
(INTERNATIONAL SAFETY MANAGEMENT (ISM) CODE)
PART A: IMPLEMENTATION – ITEM 7: SHIPBOARD OPERATIONS

The Company should establish procedures, plans and instructions, including checklist as appropriate, for key shipboard operations concerning the safety of the personnel, ship and protection of the environment. The various tasks should be defined and assigned to qualified personnel.

Perusahaan harus menetapkan prosedur, rencana dan petunjuk, termasuk checklist yang sesuai, untuk operasi kapal tentang keselamatan setiap personil, ABK, kapal juga perlindungan lingkungan. Berbagai tugas harus didefinisikan dan ditugaskan untuk personil yang berkualitas.

Dalam ISM Code, dikatakan bahwa kapten atau master kapal harus melaksanakan latihan pengendalian apabila kapal mengalami kerusakan untuk memastikan bahwa seluruh ABK terbiasa dengan kejadian sesuai dengan lokasi di kapal dimana mereka bekerja. Misalnya pada:
1 Konstruksi lambung kapal termasuk sekat kedap air
2 Sistem dan tata cara mengisolasinya
3 Lokasi dan pengoperasian semua bukaan-bukaan di kapal
4 Penyimpanan dan penempatan peralatan pompa-pompa darurat.
5 Sistem pemompaan, saat menyusun prosedur kapal tabrakan, kapal kandas dan kapal mengalami kebocoran.

Baca : The ISM Code Amendments

Masyarakat maritime di kapal dapat mengidentifikasi dan menggunakan beberapa tindakan berikut untuk membantu menentukan tindakan yang tepat antara lain :
1 Harus tersedia dan dilengkapi sistem untuk dapat memastikan bahwa pengawasan setiap saat dengan tanda-tanda adanya informasi kewaspadaan (alert), misalnya berupa sirine atau lampu, maupun sinyal pemberitahuan lainnya
2 Di kapal harus terbiasa mengetahui tata-cara mengidentifikasi bila ada air laut masuk ke dalam kapal atau adanya kebocoran di konstruksi kapal.
3 Harus selalu meningkatkan kewaspadaan setiap saat dan kapal dipasang alarm.
4 Di atas kapal disediakan stasiun darurat bagi ABK
5 Harus tersedia tempat berkumpul (assembly stations) di kapal bagi para penumpang dan ABK.
6 Segera dilakukan tindakan penyelamatan untuk setiap orang dari daerah di kapal yang mengalami kebocoran.
7 Tindakan-tindakan yang harus dilakukan pada kompartemen yang mengalami kebocoran.
8 Tindakan dan upaya teknis untuk mengurangi kebocoran di kapal.
9 Master dan ABK di kapal segera mencari dan meminta bantuan kepada semua pihak terkait
10 Melakukan tindakan emergency membuang air dari kapal, bila bisa dilakukan.
11 Melaporkan kejadian dan insiden dengan segera kepada pihak-pihak terkait
12 Bila sempat melakukan pencatatan kejadiannya sebagai bukti hukum dan menyimpannya.
13 Melakukan penilaian, kajian dan tindakan perbaikan dan pengawasan berkelanjutan, sebagai continuous corrective action, sebagai tindakan perbaikan dan pencegahan agar tidak terjadi lagi, kapal yang mengalami tabrakan, kandas dan bocor, di masa yang akan datang. [*Ir. Sjaifuddin Thahir, MSc. adalah Founder dari Thahir Maritime Center]