Kembali ke Jalan Pulang Bagi Gerson Poyk

Dari redaksi: Jumat 24 Februari 2017, putra Rote bernama Gerson Poyk (86) menghembuskan napas terakhir di RS Hermina Depok. Di usianya yang sudah begitu lanjut, penulis terkemuka Indonesia ini masih bersemangat untuk menorehkan namanya sebagai penerima award bergengsi Mangsaysay yang diberikan kepada orang-orang terkemuka dalam berbagai bidang di Asia.
Gerson memang sangat pantas menerima award ini mengingat peran dan karyanya yang begitu luar biasa memajukan dunia literasi Indonesia, lebih khusus lagi Nusa Tenggara Timur.
Penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah NTT dengan mengabadikan nama Taman Budaya “Gerson Poyk” sudah sangat pantas dan ketika siang ini beliau diturunkan ke bumi, Semoga tumbuh banyak penerus dan penggiat literasi di Rote dan NTT.
Berikut elegi yang ditulis putrinya  Fanny Jonathan Poyk
                                                        Kembali ke jalan pulang
Besok pukul dua belas siang Bapak saya dimakamkan di TPU Fatukowa Kupang. Harusnya Bpk dimakamkan Minggu, lubang yang terletak paling ujung sudah digali dan dicor. Namun posisi makam yg berada di ujung itu terkesan kalau Bapak bersemayam di sudut tersembunyi dan senyap, tak diketahui siapa pun. Melihat posisi itu pihak keluarga kurang setuju, kemudian atas campur tangan gubernur NTT Leburaya, Walikota dan jajaran Pemerintah Daerah, lubang digali lagi di jejeran terdepan yg memudahkan masyarakat pencinta sastra dapat langsung melihat makam Bapak.
Berkaitan dengan pemakaman, hampir seluruh komunitas sastra dan sastrawan NTT menginginkan Bapak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Darmaloka Kupang. Keinginan mereka didasarkan tentang kiprah Bapak yang menjadi pionir sastra NTT hingga ke manca negara. Namun untuk dimakamkan di situ tidak mudah, menurut sang gubernur yang datang menengok jasad Bapak, ada prosedur yg harus diikuti, salah satunya berkaitan dengan pembelaan negara, itu butuh proses yg cukup lama. Dan akhirnya nama Bapak dijadikan nama Taman Budaya Gerson Poyk.
Itu lebih bermanfaat, sebab setiap saat namanya akan disebut dan dikenang warga NTT, demikian pendapat Gubernur, Wakilnya, yang datang menjenguk Bapak.

Oke, akan di mana pun Bapak dimakamkan, menurut saya jika Bapak tahu, ia pasti tidak mempermasalahkan itu. Sebab semasa hidup tidur di terminal bis pun jadi. Orang akan selalu mengenang karya dan apa pun yg ia lakukan selama hidupnya dan semua yang berkaitan dgn dunia literasi.

Bapak saya GP tak akan pernah kembali dalam bentuk fisik. Mungkin puluhan tahun lagi baru akan muncul sosok seperti ayah saya. Namun dalam sikap dan jiwa sosial yg dimilikinya, saya meyakini jarang yg seperti dia, karena saya saksi hidup hari lepas hari apa yg Bapak lakukan.

Di sini , di Kupang Bapak akan dimakamkan, pemberitaan yang terus-menerus tentangnya di berbagai media di Kupang NTT menjadi gaung yang menggelitik masyarakat NTT, juga para pejabatnya bahwa Bapak bukan sekedar laki-laki asal Pulau Rote, yang telah mengukir penanya di jagad sastra Indonesia dan khususnya NTT tanpa ‘greget’ yg mumpuni. Ketika hidup masih banyak yang tak tahu siapa dia, setelah tiada, mereka baru tahu Bapak adalah perintis sastra, jurnalistik dan dunia literasi NTT. Gegar yang terjadi memang sudah terlambat, namun itu biasa. Hal-hal yg berkaitan dengan melawan lupa, kadang sulit untuk dilakukan. Bapak sudah menemukan kembali jalan untuk pulang, jalan di mana keringat, kenangan dan kisah masa lalu yang telah memberikan ribuan cinta yg memperkaya ruang imajinya. Selamat jalan Bapakku sayang… #Terima kasih bagi seluruh sahabat yang sudah membantu Bapak baik dalam masa sakitnya hingga ia menuntaskan waktu yang berdetak di denyut nadinya….salam sastra, penuh cinta dari Bapak saya yg sederhana Gerson Poyk

Share Button

Comments

comments

Translate »