Mendulang Uang dari Wisata Bahari

Potensi ekonomi dari wisata bahari belum dikelola dengan baik. Ibarat raksasa ekonomi yang masih tidur, sektor wisata bahari sesungguhnya ladang emas, sumber uang negara. Asal saja pemerintah punya jurus jitu membangunkan ‘raksasa ekonomi’ itu.

Pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) di atas kapal Pinisi, di pelabuhan  Sunda Kelapa, Jakarta, Oktober 2014 lalu sangat monumental. Jokowi memainkan bahasa simbol ‘kapal’ sebagai lambang kedigdayaan negara bahari. Dalam pidatonya, Jokowi mengingatkan bahwa kita sudah terlalu lama memunggungi atau membelakangi laut. Akibatnya, seluruh potensi yang ada di laut tidak dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Dia lalu mengajak agar kita mengubah orientasi, yaitu sama-sama menghadap laut, bukan memunggunginya. Artinya, seluruh potensi yang ada di laut  harus dioptimalkan. Semua anak bangsa, bahu-membahu bekerja keras mengoptimalkan potensi laut.

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri dalam beberapa kesempatan diskusi di Jakarta mengatakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sektor kelautan adalah pariwisata bahari. Sayangnya, sektor ini belum dimanfaatkan secara optimal. Rokhmin mengibaratkan sektor pariwisata bahari sebagai raksasa (ekonomi) yang masih tidur.  Sektor ini, “Ibarat raksasa ekonomi yang masih tidur (the sleeping giant of economy).”

Bagaimana tidak. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dikaruniai berbagai macam ekosistem pesisir dan laut.  Ada pantai berpasir, laguna, goa, hutan mangrove, padang lamun, estuaria, rumput laut dan terumbu karang. Dan Indonesia memiliki  yang paling indah dan terbanyak dari karunia Tuhan. Di antara sepuluh ekosistem terumbu karang terindah dan tarbaik di dunia, enam berada  di Indonesia, yaitu Taka Bone Rate, Raja Ampat, Wakatobi, Bunaken, Karimun Jawa, dan Pulau Weh.

Menurut Rokhmin, agar sektor pariwisata bahari dioptimalkan, maka lima komponen utama yakni objek pariwisata, transportasi, pelayanan, promosi, dan informasi, harus dikembangkan  secara terpadu.  Dari sisi objek wisata, dia memaparkan, Indonesia sudah memilkinya. Sebut saja misalnya taman laut di  di Kepupauan Padaido di Papua.  Keindah taman laut ini ternyata mengalahkan taman laut Great Barrier Reef di Queensland, Australia. Objek wisata bahari tidak hanya taman laut. Indonesia juga memiliki apa yang disebut wisata pantai (seaside tourism), wisata bisnis (business tourism), wisata budaya (cultural tourismwisata pesiar (cruise tourism), wisata olahraga (sport tourism), ), wisata pemancingan (fishing tourism), dan masih banyak jenis wisata bahari lainya.

“Namun potensi tersebut saat ini belum sepenuhnya menjadi keunggulan kompetitif,” katanya.

Agar pariwisata bahari benar-benar menjadi salah satu penopang perekonomian negara secara berkelanjutan, maka pariwisata bahari harus dibangun dengan strategi yang terencana dan bervisi jangka panjang.   Menrutunya, ada lima strategi agar wisata baharai meningkat.

Pertama, dalam pengelolaan pariwisata bahari, pemerintah harus mengubah pendekatan dari sistem birokrasi yang berbelit menjadi sistem pendekatan entrepreurial.  Dalam hal ini pemerintah sebagai pemegang kebijakan harus meyiapkan sebuah regulasi/kebijakan yang mendukung pengembangan pariwisata bahari.

Kedua, perlu dilakukan pemetaan terhadap potensi pariwisata bahari yang dimiliki. Pemetaan dimaksud, yaitu berupa nilai, karakteristiknya, infarstruktur pendukungnya, dan kemampuanya dalam menopang perekonomian. Dari hasil pemetaan itu dapat ditentukan parawisata bahari mana yang harus segera dibangun dan mana yang hanya perlu direvitalisasi.

Ketiga, perlu disusun rencana investasi dan pembangunan atas berbagai informasi setelah dilakukan pemetaan. Yang perlu diperhatikan dalam penyusunan ini adalah, bahwa yang dibangun tidak hanya pariwisata bahari saja, tapi juga faktor pendukungnya seperti akses transportasi dan telekomunikasi. Dengan demikian rencana pengembangan pariwisata bahari dapat terukur dan tetap sasaran.

Keempat, melakukan strategi pemasaran yang baik, seperti yang dilakukan negara tetangga kita Thailand yang memasarkan objek wisatannya di televisi-televisi internasional dan berbagai media seperti internet, majalah dan pameran-pameran pariwisata di tingkat internasional.

Kelima, menciptakan kualitas SDM yang tangguh di bidang paraiwisata bahari, baik skillnya, kemampuan dalam inovasi, adaptabilitas dalam menghadapi berbagai perubahan lingkungan eksternal, budaya kerja dan tingkat pendidikan serta tingkat pemahaman terhadap permasalahan strategis dan konsep yang akan dilaksanakannya.

“Kelima strategi ini kirannya dapat membantu bangsa ini dalam rangka memaksimalkan peran pariwisata bahari,” katanya.

Pelni Membaca Peluang

Sebagai perusahaan negara yang bergerak di bidang transportasi laut, Pelni membuat trobosan dalam mengatasi kesulitan akses menuju situs pariwisata.  Indonesia memang meiliki tempat pariwisata yang indah dan menarik. Namun, untuk mencapai ke sana sangat sulit, karena sarana tranportasi yang kurang memadai. Untuk menikmati eksotik alam pulau Raja Ampat yang berada di Papua, misalnya, warga yang berada di Jawa atau Sumatera tentu sangat sulit. Biaya transportasi dan penginapan sudah pasti sangat tinggi. Pelni selaku moda transportasi laut melihat pariwisata bahari sebagai potensi yang harus dioptimalkan.

Raja Ampat dan Wakatobi , misalnya, merupakan  destinasi impian banyak orang. Namun, menurut Manager Komunikasi & Hubungan Kelembagaan PT. Pelni  Akhmad Sujadi, hanya sedikit yang mampu  ke sana dan menikmatinya. Pelni berusaha agar alam indah yang dimiliki negeri ini bisa dinikmati  tidak hanya oleh orang asing, tapi juga orang Indonesia sendiri.

“Kita bahkan mendorong agar kelas menegah ke bawah nanti juga bisa berwisata ke tampat-tempat yang indah,” tutur Sujadi saat wawancara denga Lautindo.

lautindo banda naira

Banda Naira, keindahan dan Sejarah

Pelni sendiri, lanjutnya, sudah  menawarkan program yang dinamakan paket wisata bahari. Pelni menawarkan paket wisata bahari dengan harga menarik untuk mengunjungi tempat wisata tertentu. Yang sudah dilakukan dan berhasil, misalnya,  paket wisata bahari dengan destinasi wisata Raja Ampat, Papua Barat, pada 29 Oktober-1 November 2015 lalu dan destinasi wisata Wakatobi, Sulawesi Tenggara pada 15-19 November 2015.

Seperti apa paket wisata bahari itu? Konsepnya, jelas Sujadi,  kapal sebagai sarana akses dan akomodasi sekaligus hotel terapung. Para wisatawan  yang mengikuti program ini  berangkat ke tujuan wisata naik kapal dan juga  menginap  di atas kapal.  Pada  paket wisata ke Raja Ampat  yang menggunakan KM Tatamailau, paket wisatanya murah dengan 4D3N (empat hari tiga malam). Harga  paketnya 4D3N itu sebesar Rp 6,9 juta untuk kelas 1 atau eksekutif, Rp 5,5 juta untuk kelas 2 dan Rp 4,4 juta untuk kelas budget.

“Biaya tersebut sudah termasuk makan, snack, speedboat, asuransi, pajak, serta jasa pemandu, tapi belum termasuk harga untuk diving dan snorkeling. Biaya tambahan diving Rp 1,4 juta dan snorkeling Rp 250 ribu” paparnya.

Paket ke Raja Ampat diawali dari Pelabuhan Sorong pada (29/10). Dari Song kapal menuju Mansuar  dihari pertama. Para peancong dapat menikmati diving, snorkeling di Mansuar, pulau pasir putih.  Diving kedua di sekitar Pulau Yanbuba.  Para wisatawan  bisa menikmati alam bawah laut yang sangat indah. Saat itu  juga dijemput dengan tarian adat  dan bersilaturakhmi dengan warga Kepulauan Yanbuba dan jamuan kelapa muda.

Lautindo Derawan

Pantai Derawan, salah satu destinasi wisata bahari yang ditawarkan Pelni

Petang hari traveler kembali ke kapal untuk mandi, ibadah, makan malam  dan menikmati hiburan live musik  di atas Kapal. Malamnya  kapal  bergeser dari Mansuar ke Piaiynemo. Setelah sholat, makan pagi dan olah raga ringan, traveler turun dari kapal,  menuju Melissa Garden dan ke Anita Spot  diving dan snorkeling. Siang par wisatawan  kembali ke kapal untuk sholat duhur dan asyar  serta makan siang. Sekitar pukul 16.00 traveler trancking ke Bukit Pyianemo untuk melihat indahnya kepulauan Raja Ampat dari puncak bukit.

Pukul 05.00 traveler menuju Kapisawar untuk mendengarkan kicau burung Irian sampai pukul 08.00 kembali ke kapal dan diving di Manta Point. Traveller dpat menikmati snorkeling dan diving dan dapat melihat ikan pari di kedalaman laut. Snorkelling dilanjutkan di Arborek.  Pulau Arborek juga menyediakan tarian khas Papua yang unik.  Kembali ke kapal untuk sholat dan makan siang. Sorenya wisatawan dengan speedboat mengelilingi pulau-pulau indah di  Holgan dan Gua Kelelawar.

Stelah itu  wisatawan kembali ke Kapal untuk  ibadah menikmati  makan malah dan hiburan malam. Sambil  menikmati hiburan di atas hotel terapung, kapal  bergerak menuju Sorong. Ketika adzan subuh berkumandang pada Minggu (1/11) pagi kapal sudah bersandar di Pelabuhan Sorong.

Program paket wisata, jelasnya, akan dilakukan secara berkala. Agar publik tahu, Pelni akan umumkan lewat situs resmi Pelni. Dalam menggelar program ini, Pelni selalu berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Pemerintahan Daerah tempat destinasi wisata tersebut. Lantas, adakah keuntungan bagi pemda, mengingat para wisatawan tidak menginap di hotel-hotel di daerah, tapi di kapal? Pemda, jelas Sujadi, tetap mendapat pemasukan. Sebab, setiap pengunjung yang turun dari hotel terapung itu, pasti membeli souvenir  buat dibawa pulang. “Kita juga (Pelni) selalu membayar setiap kali kapal masuk,” katanya.

Selain Wakatobi, Raja Ampat dan Karimun (yang sudah rutin dilaksanakan), Pelni juga sedang merencanakan paket wisata ke Komodo. Semua tahu,  Komodo merupakan kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Pemerintah Pusat.  Pulau ini dikenal sebagai habitat asli hewan komodo. Sekitar 2500 ekor binatang purba hidup di pulau ini dan beberapa pulau sekitarnya.

Wisata bahari di Pulau Komodo tidak hanya disugguhi keunikan binatang purbanya. Sebab, pulau-pulau sekitarnya juga menawarkan eksotik alam yang indah. Sebut misalnya  Pulau Rinca, Pulau Padar dan Gili Motang. Terbentang di sana pasir merah jambu. Dan taman lautnya menyediakan pemandangan alam bawah laut dengan aneka trumbu karang dan ikan hias warna-warni.  Kapal Pelni  berlayar hingga ke Pulau Komodo dan sekitarnya.  (*)

Translate »