promosyon promosyon powerbank http://mrnreklam.com.tr promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon Menjadi Petani dan Peternak apa Hina? – LAUTINDO

Menjadi Petani dan Peternak apa Hina?

Lautindo|teknologi|Jakarta – Joko Widodo sebelum terjun ke Politik hingga tiba dalam posisi sekarang, Presiden Republik Indonesia diketahui telah mengalami perjalanan panjang sebagai tukang meubel dan jadi pengusaha meubel. Hal yang sama kelihatannya dia wariskan pula kepada puteranya yang menekuni bisnis makanan.
Sorotan kepada tenaga terdidik dalam bidang Pertanian, Peternakan, mau pun perikanan sebenarnya sudah sangat lama berlangsung. Banyaknya tenaga terdidik dan ahli dalam bidang-bidang tertentu yang kemudian justru bekerja di bidang yang berbeda, makan gaji besar dan terhormat (?) membuat Presiden Jokowi kemudian mendorong lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk membantu masyarakat dan pemerintah membenahi bidang yang sesungguhnya sangat besar peluangnya karena Negara agraria ini masih lebih banyak mengimpor berbagai komoditas.
Mari kita renungkan tulisan Dariatmoko berikut ini. Lelaki yang lama tinggal di negeri paman Sam dan menekuni bidang literasi terpanggil untuk mencari akar penyebab kesemrawutan ini. Suratnya kepada rekan-rekannya di Ikatan Guru Indonesia (IGI).

Dear PakPur dkk,

Terimakasih tanggapannya, maaf lagi ‘supersibuk’ (sedang jadi petani), jadi baru bisa tengak-tengok milis.

Tentu saja problem relevansi dunia pendidikan dengan dunia kerja ini sudah terjadi sejak dulu, dan dimana-mana. Hanya saja sekarang ini lebih terasa munkgin karena tuntutan jaman berubah dan orang mengharapkan lebih banyak dari yang bisa diberikan oleh lembaga pendidikan.

Sudah 3-4 bulan ini saya rutin setiap hari Sabtu/MInggu berkunjung ke desa atas angin (radius 10 km dari Bdg, 1000m+ dpl). Temanya tentang “food production” … mencoba memahami pertanyaan besar (riset question): kenapa kita ini hanya penghasilkan 4% kebutuhan bawang putih (80% impor dari Yunnan/China, 16% dari India), begitu juga sayur-buah yang kita konsumsi sehari-hari 75%, garam juga mengalami nasib yang sama, juga daging dll.

Impor ini artinya belanja ke luar (devisa), contohnya dari bawang putih saja kebutuhan 500 ribu ton pertahun itu nilainya sekitar $1 miliar — lebih besar dari harapan break-even yang digadang-gadang untuk N-219 (kalau tidak senasib dengan abangnya N-250 lho!). Well … certanya bisa panjang, tetapi saya ingin share apa yang saya lihat di desa atas angin yang berkait dengan topik/subject ini dulu saja.

Mereka ini petani, yang tidak bisa dibilang miskin (punya tanah cukup), tetapi hidupnya pas-pasan. Artinya hasil panen tiudak bisa diharapkan secara ajeg, banyak masa-masa ‘susah’ … seperti saat ini misalnya tanaman tomat pada mati kering pas menjelang berbuah. Musim kemarau panjang tidak bisa diramalkan (efek lokal dari perubahan iklim dunia). Untuk jaga-jaga kalau ada masa paceklik begini biasanya mereka memelihara sapi (“tabungan” istilah mereka).

Ternyata “tabungan” ini juga punya konskwensi … disamping modal buat beli sapi anakan, memberi makan mereka juga problem yang sangat besar. Setiap sapi yang ukuran sedang (layak jual untuk daging) bisa makan 50kg per hari. Rumput susah didapat, apalagi musim kemarau begini. Pertama ketemu petani ini punya 5 ekor sapi piaraan, sekarang jumlahnya sudah meningkat jadi 20 setelah menyadari keuntungan (it’s much better than the bank interest rate). Kebutuhan makanan sapi (fodder) juga naik, sampai 1 ton rumput per hari.

Karena petani lain juga sibuk merumput untuk sapinya sendiri, tenaga kerja jadi masalah. Solusi (sementara?) adalah mengerahkan seluruh anggota keluarga (anak, cucu, mantu, kakek-nenek) untuk cari rumput. Tempat cari rumput ju8ga semakin jauh, 10-20 km … bayangkan nenek usia 60-70th terbungkuk-bungkuk jalan begitu jauh (2 rit) menggendong ikatan rumput dipunggungnya. [Saya melihat pemandangan yang sama 7 tahun yang lalu, waktu hiking ke Tangkuban Perahu. Tanya saya ke nenek, kenapa musti merumput sejauh itu, jawabnya: “Sapi saya perlu makan, kalau dia mati saya tidak punya apa-apa lagi.”

Back to desa atas angin. Dalam upaya mencari rumput ini semua orang sampai anak yang masih kecil terpaksa dikerahkan. Anak perempuan yang masih SMP pun ditarik dari sekolahnya (drop-out by choice) untuk ngarit … bener-bener pakai arit yang kadang sudah gowang. Melihat ini saya jadi trenyuh, teringat dongeng masa kecil “Damarwulan Ngarit” yang settingnya di akhir kejayaan Majapahit [Kencanawungu]. Kalau ingin baca aslinya dalam aksara Jawa “Serat Damarwulan” sekarang sudah bisa di-download dari UK library.

Begitu melihat situasi seperti itu, kepala saya ‘grenengan’ sendiri … “bukankah problem semacam ini sudah lama dialami bnagsa lain, dan sudah dipikirkan dan diatasi dengan pengetahuan modern. Masalah yang dihadapi mungkin lain: problem fodder di musim dingin (winter), atau kemarau dan ketersediaan air di India, Afrika. Ini sudah banyak contoh solisinyanya, ada ribuan artikel/video di Internet. Tetapi kenapa seolah kita belum tersentuh uleh informasi semacam ini. MUngkin mereka yang “terdidik” dan punya akses ke Internet cuma sibuk berFB, WA-ria saja. Atau memang urusan penyediaan pangan (food production) ini perkerjaan yang sangat hina, sapmai wisuda minggu lalu Jokowi menyindir lulusan IPB yang lebih bnayak kerja di bank daripada ngurusi pertanian [Baca link ini dan sebelumnya: http://nasional.kompas.com/ read/2017/09/07/05490031/guru- besar-jelaskan-alasan-lulusan- ipb-banyak-kerja-di-bank ]

So … sejak 3-4 bulan yang lalu saya memutskan jadi petani, mempelajari (mengajar sekaligus belajar … docendo discimus—Seneca) seluk-beluk produksi makana ternak ini. All the way … going down the rabbit hole … yang terlalu panjang untuk ditulis disini.

Moko/

Share Button

Comments

comments

Translate »