Merayakan 9 Tahun Konservasi di Sunda Kecil

konservasi sunda kecilLautindo|KKP|Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama mitra kerjanya memilih hotel Pullman yang berada di kawasan Strategis Jakarta pusat untuk merayakan Pencapaian sembilan tahun konservasi di Sunda kecil.
Perayaan dalam bentuk workshop selain dihadiri para mitra seperti Pemerintah Negara Federal Jerman, The Nature Conservancy – Indonesia, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, juga dihadiri para Ilmuwan dari berbagai Perguruan Tinggi terutama dari Bali, NTB dan NTT, NGO maupun media.
Country Director TNC Rizal Algamar mengungkapkan Program TNC di wilayah SUnda kecil meliputi beberapa kegiatan seperti mendukung perencanaan tata ruang di tingkat provinsi dan kabupaten di kawasan Ekoregion Sunda kecil, Meningkatkan efektivitas pengelolaan TNP Laut Sawu, Mendorong perikanan berkelanjutan, Mendorong pembangunan kebijakan dan peraturan yang mendukung tata kelola Kawasan konservasi perairan di kawasan Sunda kecil.
Keberhasilan pengembangan jejaring kawasan konservasi perairan di Sunda kecil tidak terlepas dari dukungan penuh pemerintah Provinsi NTT, NTB, dan Provinsi Bali. Dalam workshop ini, Wakil gubernur NTT Benny A. Litelnoni memaparkan bagaimana pemerintah daerah dapat berkonstribusi positif dalam pengembangan jejaring kawasan konservasi. “Dengan di fasilitasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan dan The Nature Concervancy (TNC) Indonesia, kami membentuk Dewan Konservasi Perairan Provinsi (DKPP) NTT Tahun 2013 untuk menjembatani komunikasi tingkat Nasional, daerah dan masyarakat dalam pengelolaan TNP Laut Sawu.” Jelasnya.
Sebelumnya Brahmantya, Dirjen Pengelolaan Ruang Laut KKP menjelaskan bahwa ekoregion Sunda Kecil terdiri dari rangkaian pulau dan perairan dari Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur serta merupakan salah satu dari 11 Ekoregion di segitiga terumbu karang. Kawasan ini memiliki banyak kawasan konservasi dengan keanekaragaman yang luar biasa, mulai dari habitat di daerah pantai seperti terumbu karang, mangrove, padang lamun, penyu, paus dan pari manta yang terancam punah.
“Pemerintah telah menetapkan 3,35 juta hektar kawasan konservasi perairan di kawasan Sunda Kecil dan mendisain jejaring kawasan konservasi perairan yang tangguh dan menjadi referensi bagi pengembangan kawasan konservasi nasional dan daerah untuk mendukung kedaulatan keberlanjutan dan kesejahteraan” ujar Brahmantya.
Perlu diketahui, Pemerintah telah berkomitmen untuk menetapkan dan mengelola kawasan konservasi perairan seuas 20 juta hektar pada tahun 2020 dan komitmen ini disambut antusias oleh para pemerhati Lingkungan hidup.
Sarwonio dan Dharma. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan menegaskan pentingnya masyarakat perikanan Indonesia memanfaatkan momentum yang dibuka oleh Susi Pudjiastuti yakni menghukum berat para pencuri ikan dari perairan Indonesia dengan menyelenggarakan penangkapan Ikan dengan alat ramah lingkungan. Jangan dulu mementingkan keluar dari perairan Indonesia.

Sarwono dan dharma
Sarwono Kusuma Atmadja, mantan menteri Kelautan dan Lingkungan Hidup mengingatkan bahwa masalah utama adalah pada manusianya, mulai dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, para Ilmuwan, Pengusaha maupun masyarakat yang tinggal di pesisir.
Dia mencontohkan kegiatan pariwisata di sebuah provinsi yang menyambut wisatawan dengan tarian perang, dimana kepala yang kalah dipenggal. “Bukankah tarian ini malah kontra produktif?” Tanyanya.
Sarwono mengungkapkan bahwa di masa dia menjadi menteri, 50 kapal penangkap ikan Illegal dari Thailand ditangkap bersama Angkatan Laut. Dia menghubungi pemerintah Thailand dan mendapat persetujuan untuk menghukum para pencuri seberat-beratnya karena juga memalukan Negara Thailand. Namun yang terjadi kemudian adalah benerapa pejabat Indonesia dan pengusaha yang berusaha keras agar Sarwono tidak menindak keras para pencuri tersebut.
Sarwono mendukung tindakan tegas Susi Pujiastuti dan berharap keberhasilan mengusir para pencuri ditindaklanjuti segera dengan memberdayakan para pengusaha, Koperasi Nelayan untuk mengelola dan memanen ikan di perairan Nusantara. “Jangan terlambat karena para pencuri itu akan terus mengincar kekayaan laut kita” lanjutnya.
Para pemerhati dari Kupang meminta agar konservasi diperluas ke daratan, dimana banyak binatang langka yang perlu dijaga agar tidak punah seperti rusa Timor dan burung endemik. Mereka juga menyoroti lemahnya tindakan hukum kepada mereka yang melanggar konservasi seperti penjualan ikan Napoleon secara leluasa di pasar-pasar. Juga penawaran asesoris dari kulit Penyu yang artinya, Penyu yang dilindungi pun masih terus diburu.
Dr. Johannes selaku ketua konsorsium Perguruan Tinggi meminta agar sosialisasi konservasi ini terus dikembangkan untuk menyadarkan masyarakat. Dia juga menghimbau agar Kementerian Riset dan Perguruan Tinggi mengubah peraturan tentang Hasil riset yang dibiayai pemerintah. Dimana dalam aturan yang sekarang, di tahun pertama pun periset sudah harus melaporkan hasil risetnya. Dan ini mustahil dilakukan.

Share Button

Comments

comments

Translate »