promosyon promosyon powerbank http://mrnreklam.com.tr promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon Presiden Mengajak Rakyat Manfaatkan Potensi Laut – LAUTINDO

Presiden Mengajak Rakyat Manfaatkan Potensi Laut

jokowi

 

|Lautindo|Maritim|Jakarta – Presiden Joko Widodo ternyata masih memegang teguh apa yang diserukannya ketika dilantik sebagai presiden Republik Indonesia  di Gedung MPR tanggal 20 Oktober 2014. “Jalesveva Jayamahe” Seruan yang dapat diartikan sebagai “di lautan kita jaya”. menjadi arah kebijakan pemerintah hingga kini. Presiden Mengajak Rakyat Manfaatkan Potensi Laut.

Selasa (15/6), Presiden Joko Widodo memimpin rapat terbatas kabinet kerja  membahas  kebijakan pembangunan kelautan di Kantor Presiden, Jakarta. Hadir dalam rapat terbatas tersebut  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nastution, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, dan Kepala Badan Keamanan Laut Ari Soedewo.

Dalam pengantarnya, Presiden mengungkapkan  bahwa saat ini ialah saat di mana seharusnya pemerintah mempercepat pembangunan ekonomi kelautan Indonesia. Karena menurut Presiden, Indonesia yang 70 persen, atau 2/3 bagian wilayahnya berupa lautan akan menjadi sebuah negara yang besar bila mampu menjaga dan memanfaatkan potensi kelautan yang sangat besar.

“Sudah sering saya sampaikan, kita meyakini bahwa masa depan kita ada di laut. Kita bisa menjadi negara besar kalau kita mampu menjaga dan memanfaatkan potensi kelautan yang sangat besar,” ulangnya.

Sektor kelautan bisa menjadi penggerak ekonomi kita. Berdasarkan data yang disampaikan oleh Presiden, Jepang mampu menyumbang 48,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nya atau setara dengan USD 17.500 miliar hanya dari sektor ekonomi kelautannya. Sementara Thailand, yang garis pantainya hanya sepanjang 2.800 km, ekonomi kelautannya mampu menyumbang devisa sebesar USD 212 miliar.

“Indonesia dengan luas wilayah lautnya yang mencapai 70%, kontribusi dari bidang kelautan terhadap PDB nasional kita masih di bawah 30%. Dari informasi yang saya peroleh, potensi ekonomi sektor kelautan di Indonesia adalah USD 1,2 triliun per tahun dan diperkirakan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 40 juta orang,” tambahnya.

Hal tersebut dapat diartikan dengan belum maksimalnya potensi laut Indonesia dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Oleh karenanya, Presiden menginstruksikan kepada para menterinya untuk semakin mengkonsolidasikan segala kebijakan pembangunan kelautan Indonesia agar dapat semakin memaksimalkan potensi tersebut.

Ajakan presiden ini disampaikan setelah munculnya pro dan kontra impor ikan yang dikhawatirkan meluas, bukan lagi hanya ikan yang akan re-ekspor saja, Salmon, dan ikan yang diperuntukkan untuk industri pengolahan. Seperti diberitakan, kapal ikan dengan muatan 2600 ton ikan Cakalang dan Tuna merapat di Pelabuhan Muara Baru tanggal 6 Juni yang lalu yang  memicu keprihatinan masyarakat perikanan yang masih terus mendorong menteri Kelautan dan Perikanan mempertimbangkan kembali aturan-aturan yang membatasi  penangkapan ikan. Baik karena ukuran Kapal, maupun alat penangkap ikannya sendiri. Juga pemanfaatan eks kapal asing yang banyak digunakan untuk penangkapan ikan untuk bahan baku industri.

Seorang pemerhati ekonomi mempertanyakan fenomena Aneh, “Kapal Nelayan Tiongkok tidak boleh beroperasi di laut Indonesia. Tapi Indonesia beli ikan dari Tiongkok. Kemarin kapal Tiongkok menurunkan ikan di Muara Baru. Apa sebaiknya bikin aja usaha patungan Tiongkok-Indonesia. Tiongkok boleh nangkap ikan, tetapi jual murah… Cincailah.”

Seorang pelaku perikanan khusus Tuna yang dihubungi Lautindo mempertanyakan stok ikan tuna mengakui bahwa memang  tuna saat ini sedang kosong. Bisa jadi hingga 4 bulan ke depan baru panen. Masalahnya, masyarakat hanya merasa anehadanya  impor ikan (termasuk wapres Yusuf Kalla) di negara yang 70% Lautan dan konon berlimpah ikan dan hasil laut lainnya.

Perlu diketahui bahwa Tuna yang diperoleh Indonesia berasal dari Samudera Indonesia, Pasifik. Juga dari Nusa tenggara, Maluku, Maluku Utara hingga Papua.

 

 

Share Button

Comments

comments

Translate »