Program Percepatan Swasembada Garam Nasional

 

garam-11
Deputi Menteri Kordinator bidang Kemaritiman, Agung Kuswandono terjun ke lapangan bersama petani garam di Kupang, Nusa Tenggara Timur(Ist)

|Lautindo|Maritim|Jakarta – Program Swasembada Garam Nasional 2017 sudah semakin dekat. Pemerintah pun terus gencar melakukan dorongan kepada para petani garam untuk lebih meningkatkan produksi garam di wilayahnya masing-masing. Dorongan ini juga terus dilakukan oleh pemerintah dengan menggencarkan sosialisasi di wilayah-wilayah penghasil garam. Salah satunya adalah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Seperti kita ketahui, NTT adalah salah satu daerah sentra garam di Indonesia. Sentuhan teknologi ulir dan geo membran pun telah digunakan para petani garam di NTT untuk meningkatkan kualitas garam tersebut. Dan hasilnya pun memuaskan. Kualitas garam yang dihasilkan sudah tidak kalah saing dengan garam impor.
garam-2
Seiring dengan percepatan program Swasembada Garam Nasional tersebut, pemerintah dalam hal ini Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman terus mendorong para petani garam untuk terus meningkatkan kualitas garam. Deputi II bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenko Maritim, Agung Kuswandono, dalam kunjungannya ke Kupang, NTT, melakukan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) terkait program Percepatan Swasembada Garam Nasional. Pada kegiatan ini, Agung juga didampingi oleh Direktur Utama PT. Garam, Achmad Budiono.

Selain itu, Agung juga meninjau lahan garam Bipolo, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. “Ini merupakan harapan yang cerah menurut saya, kita tahu Indonesia ini masih mengimpor garam, bahkan untuk kebutuhan garam industri, sementara ini Indonesia masih impor. Ekstensifikasi pada lahan pegaraman Bipolo yang dikelola oleh PT. Garam ini merupakan satu-satunya cara untuk meningkatkan produksi garam melalui pembukaan dan perluasan lahan, ujarnya.

Direktur Utama PT. Garam, Achmad Budiono menjelaskan, sebenarnya PT. Garam di Bipolo ini meneruskan proyek dari Kementerian Perindustrian. “Land clearing sebelumnya dilakukan oleh Kementerian Perindustrian dengan anggaran sekitar Rp13 miliar, sedangkan untuk menormalisasi dan belanja modal sekitar Rp10 miliar.”tandasnya.

Teknologi garam yang selama ini digunakan, yakni ulir dan geo-membran ini sudah dianggap mampu meningkatkan produktivitas lahan garam dari sekitar 74 ton per hektar (ha) per musim menjadi 150 hingga 170 ton per ha per musim. Peningkatan produksi terjadi akibat percepatan pengubahan air laut menjadi air tua dari 28 hari menjadi sekitar 14 hari. Menurut Achmad Budiono, penggunaan membran pada proses produksi garam adalah untuk mempercepat proses kristalisasi karena dengan penggunaan membran warna hitam lebih banyak menyerap energi matahari sehingga mempercepat penguapan air laut. Perbandingan produktivitas dibandingkan dengan tanpa membran lebih besar sampai di atas 50 persen.

Ada sekitar 22 Kelompok Petani Garam di Kupang yang telah mengadopsi teknologi geo membran dan juga garam ulir. Teknologi ini pun terbukti ampuh dalam meningkatkan produksi garam oleh para petani garam.

Menjawab pertanyaan  media terkait kapasitas panen Bipolo saat ini yang tidak sesuai harapan, Agung menegaskan, bahwa Ini bukan gagal panen atau apa, tapi karena terjadi la nina yakni hujan terus-menerus, bahkan yang biasanya kemarau tahun ini jadi musim hujan. Otomatis kapasitas ladang garamnya  turun. Hanya saja, lanjut Agung, di Kupang ini masih bisa produksi, meskipun tidak seratus persen. “Nah, nanti kalau lahannya semakin besar, tentu produksinya akan semakin banyak,” paparnya.

Terkait kebijakan import yang masih terus berlangsung,  Agung mengatakan bahwa mengimpor  harus jelas alasannya. Jumlah yang akan diimport berapa dan untuk memenuhi kekurangan produk lokal yang hanya berapa. Kalau kebutuhan 3 juta ton, sedangkan produk lokal ada 2 juta ton, maka yang perlu diimpor hanya 1 juta ton. Jangan merusak pasar lokal dengan mengimpor 2 juta ton lagi. “Kita tidak antipati terhadap impor, yang jelas masih wajar,” kata Agung, untuk itu hitungan yang baku akan dibuatkan.

Achmad Budiono percaya bahwa percepatan swasembada garam khususnya di Bipolo ini akan lebih mudah apabila didukung dengan pembebasan lahan seluas 8000 ha dan dibantu oleh pemerintah. “Kira-kira 2019 bisa selesai, karena di sini bukan hutan bakau, jadi tinggal bikin tanggul-tanggulnya,” tambahnya.

Agung pun menambahkan, intinya cita-cita luhur untuk swasembada garam nasional harus kita kejar. Masyarakat Indonesia itu kalau belum ada contohnya, biasanya enggan untuk memulai. “Yang terpenting adalah untuk memulai dulu, contoh di Bipolo ini adalah contoh permulaan yang baik,” tutup Agung.

Share Button

Comments

comments

Translate »