promosyon promosyon powerbank http://mrnreklam.com.tr promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon Konsekwensi Ratifikasi Ballast Water Convention Bagi Indonesia – LAUTINDO

Konsekwensi Ratifikasi Ballast Water Convention Bagi Indonesia

Kapal memompa air ballas [ballastwatercentre.co.uk]
Kapal memompa air ballas [ballastwatercentre.co.uk]
| LAUTINDO | PERKAPALAN | JAKARTA | Penggunaan air laut yang disedot oleh kapal dengan pompa balas, ballast water, kapal dan digunakan sebagai penyeimbang kapal atau untuk menstabilkan kapal di laut sesuai dengan buku stabilitas kapal yang biasanya disetujui oleh pemerintah atau badan klasifikasi yang ditunjuk, sebenarnya terjadi semenjak adanya kapal dibangun dengan menggunakan bahan material baja, namun resikonya belum terpikirkan saat itu.

Upaya untuk menjaga kondisi operasional kapal yang aman sepanjang perjalanan kapal ke pelabuhan tujuan, sampai dengan saat ini, hanya dapat dibantu dengan apa yang disebut teknologi sistim air balas yaitu air laut (bukan menggunakan air tawar) yang digunakan sebagai penyeimbang kapal dan dipompa masuk ke dalam konstruksi lambung kapal. Bayangkan saja, bila kapal menggunakan air tawar, maka berapa ton air tawar yang harus dikonsumsi oleh kapal untuk penyeimbang kapal. Tidak ada jalan lain yang lebih mudah, kapal harus memanfaatkan air laut sebagai pembalasnya.

Dengan dimasukkannya air laut ke dalam lambung kapal lewat seachest sampai ke dalam tangki balas, maka akan terdapat pengurangan tekanan hidrostatis pada lambung kapal, air balas dapat membantu memberikan stabilitas melintang kapal, air balas dapat meningkatkan kemampuan propulsi kapal dan kemampuan oleh gerak kapal (manuver), air balas kapal dapat sebagai kompensasi perubahan berat kapal dalam berbagai kondisi beban muatan kapal yang berubah setiap adanya pemuatan dimana tergantung pada berat jenis muatan dan begitu juga dengan bahan bakar dan air tawar yang dikonsumsi kapal juga mengalami perubahan dalam perjalanan kapal, maka kehadiran air balas sangat diperlukan. “Konsekwensi Ratifikasi Ballast Water Convention Bagi Indonesia”.

Kegiatan memasukkan dan mengeluarkan air laut dari dan ke dalam kapal tampaknya seperti kegiatan yang tidak menimbulkan masalah dan juga kegiatan yang tidak ada salahnya dan kegiatan ballasting kapal ini sangat penting untuk pengoperasi pelayaran kapal yang aman dan efisien, namun tidak disadari bahwa kegiatan ini dapat menimbulkan perubahan ekologi laut, menimbulkan permasalahan ekonomi dan menimbulkan dampak kesehatan yang serius pada biota laut dan manusia karena banyaknya kedatangan spesies laut yang diakibatkan oleh adanya air balast kapal.

Spesies-spesies yang dipindahkan dari suatu pelabuhan ke pelabuhan yang lain dapat bertahan hidup dan dapat membangun populasi yang dapat melakukan reproduksi di lingkungan laut yang didatanginya, spesies menjadi invasive yang bersaing dengan spesies pribumi dan dianggap sebagai spesies dengan proporsi sebagai hama. Penyebaran spesies invasive tersebut saat ini dipandang oleh seluruh dunia atau setidaknya oleh Negara-negara anggota IMO sebagai salah satu bentuk ancaman terbesar bagi ekologi laut dan perkembangan ekonomi dan kesejahteraan kesejahteraan masyarakat setempat.

KAPAN KONVENSI PENGELOLAAN AIR BALAS INI DIBERLAKU?

Mengambil tindakan untuk memberlakukan konvensi pengelolaan air balas ini tidak sesederhana kita bayangkan. Membutuhkan proses yang cukup panjang. Perlu kita ketahui bahwa dalam pemberlakukan Konvensi Internasional untuk Pengendalian dan Pengelolaan Kapal air balas kapal dan Sedimennya (BWM Convention) ini membutuhkan waktu yang lama setidaknya selama 14 tahun untuk melakukan perundingan-perundingan yang cukup komplek dan ruwet di antara Negara-negara anggota IMO yang selanjutnya bersepakat mengadopsinya dengan cara konsensus. Konvensi Internasional BWM Convention ini disepakati pada Konferensi Diplomatik yang diadakan di markas IMO London pada tanggal 13 Februari 2004.

Ketentuan pemberlakukan BWM Convention ini adalah bahwa sebelum konvensi ini diberlakukan oleh dunia maka minimal harus ada sebanyak 30 negara anggota IMO yang mewakili total tonase kotor gabungan yang lebih dari 35% dari armada kapal niaga di dunia yang telah meratifikasi. Dengan adanya Pemerintah Indonesia melalui delegasi Indonesia dalam sidang IMO yang memutuskan penyampaian ratifikasi BWM Convention pada tanggal 24 November 2015 dan aksesi Finlandia pada tanggal 8 September 2016, maka jumlah total Negara-negara anggota IMO yang meratifikasi dan menanda-tangani kontrak perjanjian telah mencapai sebanyak 52 negara, dan mewakili sebanyak 35,1441% dari gross tonase armada kapal dunia. Dengan status ratifikasi oleh Negara-negara anggota IMO tersebut maka BWM Convention ini dipastikan mulai diberlaku pada tanggal 8 September 2017.

Sampai dengan saat ini dalam pertemuan-pertemuan IMO masih melakukan pembahasan-pembahasan soal Perlindungan Lingkungan Laut, salah satu topic hangatnya adalah apakah tanggal pelaksanaan BWM Convention antara tahun 2017 s/d 2022 dapat diperpanjang atau tidak. Ini adalah kesempatan Negara-negara yang telah meratifikasi untuk berkomentar akan dampaknya yang seharusnya sudah dipikirkan jauh-jauh sebelumnya.

TENTANG PERSYARATAN BWM KONVENSI

Setelah Konvensi Manajemen Air Balas secara resmi mulai diberlakukan, maka konsekwensinya semua kapal dengan ukuran 400 GRT ke atas hukumnya wajib untuk memiliki Rencana Pengelolaan Air Balas yang disetujui oleh pemerintah dan ditempatkan di atas kapal, memiliki buku catatan air balas yang dapat diaudit dan diperiksa, memiliki instalasi Sistem Pengolahan Air Balas yang telah disetujui oleh pemerintahnya, memiliki sertifikat internasional Manajemen Air Balas

DAMPAK KONVENSI PENGELOLAAN AIR BALAS

Diperkirakan berdampak adanya permintaan yang cukup besar soal pemasangan Sistem Pengolahan Air Balas pada puluhan ribuan kapal saat Konvensi Air Ballast diberlakukan tanggal September 2017. Diperkirakan sekitar 40.000 s/d 50.000 kapal harus retrofit atau dilakukan pemasangan Ballast Water Treatment System yang telah disetujui IMO atau USCG. Termasuk kapal-kapal berbendera Indonesia yang berukuran 400 GT ke atas dan khususnya kapal Indonesia yang dipergunakan untuk perlayaran ke luar negeri.

Industry komponen kapal dalam negeri, mau tidak mau, harus sudah siap mensupply. Bila tidak maka Indonesia akan dibanjiri oleh produk Ballast Water Treatment System buatan asing. Sementara industry komponen kapal dalam negeri masih harus bersaing dengan 89 pabrik pembuat Ballast Water Treatment System yang ada di dunia. Proses produksi system tersebut butuh waktu lama, mulai dari proses research sampai mendapatkan approval. Sementara Water Treatment System dari luar negeri telah mendapatkan approval dari IMO dan USCG. Pemerintah dan badan klasifikasi harus mengantisipasi hal ini.

Bagi para ahli industry komponen kapal Ballast Water Treatment System dalam negeri, karena seluruh industry dunia sekarang ini sedang berkreasi dan berlomba-lomba menunjukkan performance produksinya bahwa tren pasar pelayaran dunia membutuhkan system yang berkelanjutan dan operasi system yang ramah lingkungan. Maka industry komponen dalam negeri juga harus tidak boleh kalah, harus dapat menunjukkan kreatifitasnya memproduksi dengan persformance yang sama. Jangan ketinggalan kereta.

Dana yang dibutuhkan cukup mahal. biaya pemasangan instalasi sistem pengelolaan air balas cukup besar – perkiraan menurut organisasi pemilik kapal BIMCO adalah sampai US$ 5juta per kapal besar (tentunya biaya ini dapat dikompensasikan dalam biaya operasional kapal selama umur hidup kapal). Bersamaan dengan iklim bisnis pelayaran yang sedang melesu dan pengusaha pelayaran dalam negeri untuk melayani export harus bersedia mengeluarkan dana untuk pemasangannya. apakah ruangan di kapal cukup tersedia untuk dilakukan retrofit atau pemasangan Ballast Water Treatment System. Khusus untuk kapal yang berukuran kecil akan menghadapi Kendala besar. Tenaga-tenaga ahli Water Treatment System Indonesia harus siap mengahadapinya. Oleh karena itu produsen merah putih bila bisa memproduksi dengan harga yang cukup murah dibandingkan dengan produk asing maka ini adalah bisnis yang cukup menjanjikan.

Baca juga : Patuhi Konvensi Ballast Water

Pelaksanaan penerapan Konvensi BWM ini akan menjadi tantangan yang cukup besar bagi industri pelayaran, termasuk galangan kapal, produsen peralatan Ballast Water Treatment System dan pemilik kapal. Kapal-kapal Indonesia yang digabungkan dalam P&I Club akan mengingatkan kepada semua anggota-anggotanya yang pemilik kapal untuk tidak menunda-menunda pemasangan Ballast Water Treatment System tersebut dalam memastikannya kepatuhan terhadap pengendalian pengelolaan air ballast.

Daftar Disini - Click Here To Register
Daftar Disini – Click Here To Register

Tantangan galangan kapal nasional. Katakanlah pemilik kapal berkeinginan memenuhi kepatuhan system tersebut dan dilakukan pemasangan system tersebut, maka Kapal ada kemungkinan besar untuk menuju ke galangan kapal dimana alat tersebut bisa dipasang. Ini juga akan timbul permaslahan baru dimana diperjalannya kapal akan dapat perlakuan penahanan oleh pihak PSCO Negara lain. Untuk itu pemerintah dan badan klasifikasi harus siap untuk mengantisipasinya dengan dokumen pendukung. [Sjaifuddin Thahir – Ketum PRAMARIN]

Share Button

Comments

comments

Translate »