Revitalisasi Keramba Jaring Apung

KJA| LAUTINDO | KKP | JAKARTA | Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen Perikanan Budidaya menggandeng sejumlah asosiasi untuk merevitalisasi Keramba Jaring Apung (KJA). Revitalisasi KJA dilakukan salah satunya untuk meningkatkan produktivitas rumput laut di Indonesia. Kementerian Kelautan dan Perikanan mengembangkan budidaya ikan dengan metode keramba jaring apung lepas pantai mulai tahun 2017. Tahap awal pengembangan keramba jaring apung sebanyak tiga unit untuk tiga lokasi, yaitu Karimun Jawa (Jawa Tengah), Pantai Selatan Jawa, dan Sabang (Aceh). “Revitalisasi Keramba Jaring Apung”.

Pembangunan keramba jaring apung lepas pantai ditujukan untuk dapat mengoptimalkan pemanfaatan potensi lahan budidaya laut di Indonesia. Hingga kini, lahan budidaya laut baru termanfaatkan 281.000 hektar atau 2 persen dari total potensi budidaya laut yang mencapai 12,08 juta hektar.

Ditjen Perikanan Budidaya menggandeng dua asosiasi dan satu lembaga penelitian, antara lain Himpunan Pembudidaya Ikan Laut Indonesia (Hipilindo), Himpunan Keramba Jaring Apung Indonesia (Hipkerindo), dan SEAMEO Biotrop sebagai lembaga peneliti. Kedua asosiasi siap untuk mengelola KJA yang tidak produktif.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto menjelaskan, Perum Perikanan Indonesia (Perindo) akan berperan dalam revitalisasi KJA di Indonesia. Sedikitnya ada 15.582 KJA yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan menggunakan KJA, produktivitas rumput laut bisa mencapai 48 ton per hektarnya. Sedangkan jika menggunakan keramba biasa hanya bisa menghasilkan 4 ton. Pembuatan KJA juga bisa untuk melakukan budidaya ikan kerapu dan ikan kakap. “Satu hektar aja dalam satu bulan bisa hasilkan 40-48 ton, sedangkan kalau yang sistem biasa itu satu hektar cuma 2-4 ton. Selain itu juga bisa digunakan untuk kakap dan kerapu,” ungkap Slamet di Jakarta

KKP telah menginvestasikan sekitar Rp260 miliar untuk melakukan revitalisasi fasilitas perikanan di sektor budidaya ikan, Rp50 miliar disiapkan untuk revitalisasi keramba jaring apung (KJA) dan Rp210 miliar untuk revitalisasi tambak.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan bahwa revitalisasi dilakukan demi memperbaiki kondisi keramba ikan dan tambak di seluruh Indonesia yang saat ini dalam kondisi yang tidak layak.

“Kalau untuk revitalisasi KJA itu sekitar Rp50 miliar. Dan Kalau untuk tambak itu ada revitalisasi total lahannya sekitar 300 hektare, kira-kira Rp210miliar lah,” terang Slamet.  Slamet menambahkan, “pengelolaan keramba jaring apung lepas pantai akan bekerja sama dengan BUMN perikanan. Keramba dibangun pemerintah, sedangkan operasionalnya oleh BUMN perikanan”.

Selain revitalisasi fasilitas secara fisik, perlu dilakukan penyuluhan pola pikir (mindset) untuk pembudidaya ikan dan rumput laut. Salah satunya adalah mengenai proses pemanfaatan bibit di keramba. Menurut Slamet, pihaknya akan gencar menyelenggarakan penyuluhan untuk para pembudidaya perikanan.

“Mindset pembudidaya juga harus diubah, Karena biasanya mereka itu menggunakan (bibit) itu terus, panen diambil bibitnya dan sisanya dijual. Nah nanti itu tidak, dari hasil budidaya yang dibudidayakan itu 100 persen harus dijual, bibit didatangkan dari kebun bibit yang baru lagi,” tutur dia.

Slamet juga menjelaskan, pemerintah juga telah menyebar petugas penyuluhan kepada pembudidaya di beberapa wilayah di Indonesia. Ia mengharapkan, seluruh pembudidaya di KJA  dan tambak Indonesia memiliki mindset yang benar dalam pengelolaannya.

Comments

comments

Translate »