Satu Sabuk Satu Jalan China terhadap ASEAN

Satu Sabuk Satu Jalan , One Belt One Road China
Satu Sabuk Satu Jalan , One Belt One Road China

| Lautindo | ASEAN | Jargon kebijakan pembangunan infrastruktur global China, One Belt One Road China begitu menggiurkan untuk di diskusikan saat ini. China begitu getolnya memberitakan jargon kebijakan tersebut, dengan menampilkan peningkatan pembangunan sekaligus keamanan dengan penguatan dan peningkatan perekonomiannya. Satu Sabuk Satu Jalan China terhadap ASEAN.

Sebagai akibat dari sosialisai jargon kebijakan tersebut, yang tampak jelas pembangunannya oleh China, membuat negara negara ASEAN tergeliat untuk mempelajari lebih jauh dan mengambil manfaat dari pembangunan global jargon kebijakan China, termasuk mempertimbangkan untuk menerima ‘bantuan’, baik pinjaman maupun konsultansi untuk pembangunan infrastruktur negara negara ASEAN.

Kondisi demografi Asia Tenggara sebagai perlintasan “transportasi” dari Timur ke Barat, maupun Utara ke Selatan, sebagai Poros Maritim begitu mengutungkan. Sejumlah Infrastruktur kemaritiman di Asia Tenggara secara masif dibangun dengan berkelanjutan, yang muncul sebagai penopang sekaligus penerima utama dari visi kebijakan Satu Sabuk Satu Jalan, One Belt One Road China.

Bahkan dari sumber perbankan memperkirakan anggaran kebutuhan infrastruktur ASEAN dikisaran USD100 miliar per tahun selama sepuluh sampai 15 tahun mendatang. Dapat dibayangkan permintaan yang sangat tinggi untuk pendanaan transportasi dan infrastruktur listrik, dan khususnya, kebutuhan akan sumber daya manusia. Negara negara ASEAN terus meningkatkan infrastruktur pelabuhan serta membangun pendalaman dan perluasan pelabuhan yang bertujuan untuk menarik kapal  kapal untuk bersandar di Pelabuhan mereka, yang sudah pasti akan meningkatkan daya saing ekonomi seperti Indonesia, Filipina, Kamboja dan Myanmar.

Kebijakan Satu Sabuk Satu Jalan Cina ‘tampaknya’ memiliki tujuan, diantaranya: 1. Sebagai fasilitator konektivitas Eropa-Asia, dengan memperluas pasar internasional untuk barang-barang Cina. 2. Untuk mengamankan bahan baku untuk Cina, yang menjadi isu rantai pasokan regional di Cina. 3. Untuk menyediakan outlet untuk kelebihan kapasitas dalam perekonomian restrukturisasi China. dan yang terakhir adalah untuk mempromosikan internasionalisasi Renminbi sebagai mata uang perdagangan internasional.

Kebijakan Satu Sabuk Satu Jalan paling mungkin bertindak sebagai katalis investasi tambahan di Asia Tenggara oleh negara-negara maju seperti USA, Eropa, Jepang dan Korea, namun demikian China adalah pemain dominan.

Share Button

Comments

comments

Translate »