Soal Garuda Indonesia, Rizal Ramli benar 100%

Duo Menko
Menko bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan bersama mantan Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli.

|Lautindo|Maritim|Jakarta – Apakah pembaca masih ingat kepada Rizal Ramli? Jabatan terakhir di pemerintahan adalah Menteri Kordinator bidang Kemaritiman dan Sumber Daya sebelum diganti oleh rekan menkonya yakni Luhut Binsar Panjaitan yang sebelumnya adalah Menko Pohukam, yang kini dijabat oleh Wiranto.

Kali ini kita tidak akan mendiskusikan masalah pemecatannya sebagai Menko kemaritiman dan Sumber Daya, namun kepretannya kepada Direksi Garuda Indonesia yang berencana membeli 30 unit Airbus A350.

Kepretannya kepada Garuda karena menilai rencana prestisius tersebut dia nilai hanya pemborosan. Rencana Garuda untuk mengarungi angkasa hingga Amerika dan Eropa hanya akan menjadikan Garuda semakin inefisien.

Hari ini kepretan Rizal Ramli yang dia utarakan sehari setelah dilantik menjadi menko Maritim atau dianggap kepretan pertama tersebut yang kurang diyakini oleh banyak pihak terutama tim Garuda ternyata benar. Benar ketika Garuda yang sudah go public dikutip hanya menghasilkan keuntungan sebesar Rp.104,78 miliar untuk tahun buku 2016. Laba tersebut bila dibandingkan dengan laba tahun 2015 telah terkoreksi sebesar 89,41%, dimana laba bersih tahun 2015 sebesar 76,48 juta dolar AS, sebagaimana dikutif dari Bursa Efek Indonesia.

 Peningkatan Pendapatan Perseroan  sebesar 1,3% ternyata tidak mampu menutup beban operasional perseroan yang sudah melonjak tahun 2016 ke 3,79 Miliar dolar AS dari catatan tahun 2015 yang sudah 3,73 miliar dolar.
Dimana pemborosan yang terjadi?
Sorotan Rizal Ramli terhadap rute Garuda adalah ramalannya akan tingkat keterisian penumpang yang hanya 30%, yang tentu saja bukanlah angka yang menggembirakan. Jadi untuk apa membuang dana membeli pesawat-pesawat berbadan lebar, merekrut para Crew dan ongkos operasi yang akan sangat besar padahal Singapore Airlines sendiri sudah lempar handuk? Oleh sebab itu RR ngotot agar Garuda meningkatkan pelayanan domestik dan Asia saja.
Publik ketika itu menyaksikan kemarahan menteri BUMN Rini Soemarno yang menganggap Menko Maritim mencampuri urusan nya menteri lainnya.
Oleh berbagai silang pendapat antar menteri, maka Presiden Jokowi pun menyempatkan memberi tegoran agar kritikan dan diskusi dilakukan secara internal oleh para pejabat pemerintah.
Januari lalu, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan warning kepada Direksi Garuda Indonesia untuk ekstra serius merencanakan pengembangan armada pesawat. Benar-benar diperhitungkan.
Share Button

Comments

comments

Translate »