Standar Kontrak Bunker Kapal

tanker

| LAUTINDO | Ships | Jakarta | Menjadi pihak supplier bahan bakar atau bunker kapal tidaklah semudah seperti halnya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang di darat untuk mobil kita karena supplier bunker kapal merupakan salah satu kandidat yang juga harus bertanggung jawab bilamana bunker yang dipakaikan pada mesin kapal tersebut menjadikan mesin kapal mengalami kerusakan. Hal ini tentunya menjadi pertimbangan dalam claim asuransi mesin kapal.

Secara umum bunker kapal harus sesuai dengan tujuan penggunaan bunker dalam arti bahwa bunker atau bahan bakar kapal tersebut dapat dipergunakan secara aman, baik untuk mesin induk maupun mesin bantu dan mesin-mesin lain sebagai penggerak kapal tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan pada mesin kapal tersebut. Dibutuhkan “Standar Kontrak Bunker Kapal”.

Harus dipahami bahwa mesin kapal sangat berbeda dengan mesin yang digunakan di darat (land use engine) dan bahwa standar ISO tidak memberikan standar tertentu untuk karakteristik bunker kapal dan kontaminannya. Sebagaimana dinyatakan dalam Persyaratan Umum ISO-8217 Bagian 4 dimana hanya dinyatakan secara umum saja bahwa bahan bakar kapal
• tidak boleh mengandung zat atau bahan kimia yang membahayakan keselamatan kapal atau
• mempengaruhi kinerja mesin menjadi menurun; atau
• berbahaya bagi personil yang bekerja atau berada di atas kapal; atau
• menciptakan polusi udara di laut”

Oleh karena itu, bagi pembeli bunker kapal berkewajiban juga untuk memastikan bahwa kelas bahan bakar (grade of fuel) yang diisikan ke dalam tangki bahan bakar kapal harus memang benar-benar cocok atau sesuai untuk digunakan di kapalnya. Harus perhatikan engine maker. Biasanya supplier bunker memberikan spesifikasi teknis bahan bakar.

Supplier bunker biasanya menyodorkan suatu pernyataan atau kadang-kadang tidak dimana pernyataan tersebuit menyatakan spesifikasi teknis bahan bakar telah dipastikan cocok dengan mesin kapal. Hal memastikan spesifikasi teknis bunker kapal ini penting sekali dilakukan oleh pemilik kapal terutama bila mesin kapalnya memiliki beberapa persyaratan atau karakteristik khusus dari engine maker, karena setiap kelalaian dalam hal pemastian ini akan bisa mengakibatkan pemasok bunker bertanggung jawab atas kerusakan yang disebabkan adanya pembakaran bunker di mesin kapal.

Baca :  Bunker Delivery Note Harus Disimpan

Meskipun dalam konvensi MARPOl Annex VI (Regulasi 14 dan 18) menyatakan bahwa bunker yang digunakan di kapal dilarang melebihi kandungan sulphur (SOx) dan nitrogen (NOx) maksimum yang ditentukan, biasanya beberapa pemasok bunker ada yang memenuhi ada yang belum tentu dapat memberikan bunker yang memenuhi syarat tersebut. Bila hal ini terjadi maka bisa berakibat biaya perawatan mesin kapal akan lebih besar yang harus dikeluarkan oleh pemilik kapal. Untuk itu perlu diperhatikan bila memesan bunker bahwa pasokan bahan bakar memenuhi persyaratan tersebut.

Untuk membantu dunia industri pelayaran, BIMCO membantu membuat format Kontrak bunker yang standar (BIMCO Standard Bunker Contract) dimana di dalamnya ada beberapa syarat dan kondisi untuk penjualan bahan bakar kapal dan bagaimana tata cara pengambilan sampel bunker dan lembar pengiriman bunker (bunker delivery notes) harus sesuai dengan peraturan MARPOL Annex VI. Namun kontrak atau persyaratan dan kondisi tersebut ini tidak wajib harus diukuti, pihak-pihak terkait bisa membuat sesuai formatnya sendiri.

Keuntungannya, jika pemilik kapal memiliki kontrak dengan pemasok maka hak dan kewajiban pemilik kapal dan pemasok akan tercantum dalam kontrak sehingga semua pihak akan tunduk pada syarat-syarat kontrak itu. [Ir. Sjaifuddin Thahir, MSc.]

Share Button

Comments

comments

Translate »