STANDARD SETTER, Class Bantu Industri Pelayaran

bki
World Maritime News (istimewa)

| LAUTINDO | SHIPS | JAKARTA | Indonesia memiliki satu badan klasifikasi yaitu PT. Biro Klasifikasi Indonesia disingkat BKI. Seperti kita ketahui bersama bahwa di dunia ini belum ada satu lembaga atau badan pun selain “Class” yang dapat memberikan pelayanan teknis tingkat tinggi yang mencakup semua jenis kapal mulai dari proses desain kapal sampai dengan pembangunan kapal bahkan sampai dengan kapal berhenti operasi (untuk disecrap). Tentunya pelayanan class tersebut ditujukan kepada para pemilik kapal, perusahaan galangan kapal, pencarter kapal, perusahaan asuransi dan para investor. “STANDARD SETTER, Class Bantu Industri Pelayaran”.

Pada saat pemerintah merumuskan suatu peraturan keselamatan kapal, beberapa pemerintah Negara di dunia secara bersama-sama bertemu dan tergabung dalam naungan IMO di London, maka pemerintah biasanya berpikir dan beranggapan bahwa rumusan persyaratannya tidak perlu terlalu mendetail hanya bersifat regulasi dan policy saja karena untuk secara teknisnya telah tercover dalam Rule yang disusun oleh “Class”, mulai dari peraturan disain kapal, peraturan survey dan pemeriksaan konstruksi kapal, proses pembangunan kapal, dan sistem permesinan dan kelistrikan kapal, dll.

Oleh karena itu, dalam dunia maritim, “Class” disebut sebagai pemimpin teknis dan “standard-setter” dan tetap berada di garis terdepan dalam perkembangan teknologi perkapalan.“Class” tidak hanya berperan penting dalam perkapalan tapi juga mempunyai peran multi-dimensi. “Class” dapat melakukan tugas-tugas yang telah didelegasikan oleh negara bendera, melakukan verifikasi teknis kapal dan industri pelayaran, serta memberi pelayanan yang terbaik bagi pemilik kapal.

Berdasarkan pada prinsip-prinsip independensi, integritas dan ketidakberpihakan, “Class” mendefinisikan dirinya sebenarnya dan hakikatnya adalah sebagai “non-governmental”, badan teknis non-profit yang hanya mengimplementasikan aturan-aturan saja atas dasar pertimbangan teknis dan dalam rangka mengejar keselamatan kapal di laut, tanpa dipengaruhi oleh konsekuensi komersial atau politik sedikitpun.

IMO mengakui akan karakter yang sangat unik dari “Class” ini dan menyadari bahwa “Class” dapat memainkan perannya dalam melaksanakan standar keselamatan tingkat tinggi. IMO berulang kali mempromosikan peran “Class”. Namun pada saat yang sama telah berdampak meningkatnya beban kerja dari “Class” di seluruh dunia, yang dikhawatirkan terjadinya penurunan standar pelayanan yang diberikan oleh “Class”.

Pelanggan “Class” adalah pemilik kapal yang lazimnya membayar semua tagihan-tagihan yang timbul atas pelayanan, yang faktanya hal ini menimbulkan sejumlah kritik bahwa “Class” memiliki konflik kepentingan, yaitu dalam melaksanakan tugas statutory di satu sisi dan di sisi lain “pleasing” kepada pemilik kapal. Pemilik kapal biasanya mengkritik “Class” bila terjadi kegagalan dalam melaksanakan tugasnya karena tidak bisa menyenangkan (“displease”) pelanggannya.

Berkat upaya asosiasi internasional dari badan klasifikasi (IACS), “Class” memiliki reputasi yang lebih baik dibandingkan dengan situasi-situasi sebelumnya. Tahun 1969, IACS diberikan oleh IMO yang merupakan satu-satunya organisasi non-pemerintah dengan status pengamat (observer status) yang mampu menyusun aturan sendiri. IACS selalu bekerjasama dengan IMO misalnya dalam menetapkan pedoman untuk pengakuan “Class” di dunia dan IACS memberlakukan “self-regulatory scheme” pada anggotanya untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitasnya.

Anggota IACS telah diakui oleh 171 negara anggota IMO untuk melakukan survei internasional dan nasional untuk mematuhi peraturan perundang-undangan dan untuk mengeluarkan sertifikasi yang diperlukan atas nama pemerintah. Sejak berdirinya pada tahun 1968, IACS telah bekerja dengan tiga tujuan utama:
1. mempromosikan peningkatan standar keselamatan kapal dan mencegah pencemaran lingkungan laut;
2. berkonsultasi dan bekerja sama dengan organisasi-organisasi maritim internasional dan nasional
3. mempertahankan kerjasama dengan dunia industri maritim “without giving up independence”.

IACS meluncurkan QUALITY SYSTEM CERTIFICATION SCHEME (QSCS) pada tahun 1991 untuk memastikan integritas dan standar tertinggi dalam pelayanan klasifikasi kapal. QSCS menetapkan dan memonitor standar yang sangat ketat dan diperkuat dengan standar dari ISO 9001. Seperti kita ketahui bersama, IMO adalah organisasi yang bertanggung jawab untuk keselamatan kapal dan pencegahan polusi maritim. IACS, memegang status konsultatif di dalam IMO dan memainkan peran aktif melalui kontribusi untuk pengembangan semua konvensi internasional. Mengingat hal ini, IACS senantiasa menjaga hubungan dengan berbagai organisasi keselamatan maritime dan asosiasi lainnya seperti:
• International Chamber of Shipping (ICS),
• Oil Companies International Maritime Forum (OCIMF),
• Intertanko,
• Intercargo,
• Institute of London Underwriters,
• Lainnya [Ir. Sjaifuddin Thahir, MSc.]

Share Button

Comments

comments

Translate »