FGD Pengembangan Sains dan Teknologi Serta Pembentukan Konsorsium Garam Untuk Urgensi Institut Garam

Petambak Garam
Petambak Garam

| LAUTINDO | Maritim | Jakarta | Garam telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak berabad-abad. Proses pembuatan garam di berbagai daerah di Indonesia pun sampai sekarang banyak yang mempertahankan tradisi. “FGD Pengembangan Sains dan Teknologi Serta Pembentukan Konsorsium Garam Untuk Urgensi Institut Garam”.

Dalam rangkaian kunjungannya ke Universitas Trunojoyo Madura sebagai narasumber kelompok diskusi terfokus (FGD) tentang pengembangan sains dan teknologi garam serta pembentukan konsorsium garam, Staf Ahli Menko Maritim Bidang Sosio-Antropologi Tukul Rameyo memaparkan tentang urgensi institut garam. Apalagi bila mengingat, “pada peradaban lalu, garam lebih berharga dari pada emas dan menjadi alat tukar seperti uang” tutur Rameyo.

“Sekitar 10 tahun lalu pemerintah menggagas dua program nasional terkait garam yaitu program swa sembada garam oleh Kemenko Ekonomi, dan pemberdayaan usaha garam rakyat (PUGAR) oleh KKP. Nah, untuk menjembatani PUGAR dan swasembada garam, waktu itu kita menawarkan terobosan, yakni membangun Institut Garam Indonesia (Indonesia salt institute)” terang Rameyo. Mitra kita diantaranya, ITB, ITS, Universitas Trunojoyo Madura.  Masih menurut Rameyo, kekayaan tradisi dan modernisasi garam nasional perlu dirangkai dalam konsep institut garam.

“Dalam Kawasan Sains dan Teknologi , melalui kerja bareng, pemerintah, swasta, akademisi, komunitas, penggerak ekonomi daerah berbasis garam, kita kembangkan inovasi pemberdayaan garam rakyat dan swasembada garam industri.” Terang Rameyo.

Sementara itu, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi telah membuat konsep Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUI), konsep ini dimplementasikan oleh Universitas Trunojoyo Madura menjadi PUI Garam. Madura sendiri telah menjadi salah satu pusat pergaraman nasional dan memiliki tradisi yang kuat mengenai garam. “Untuk memantapkan Kawasan sains dan teknologi , UTM saat ini telah menjalin kerja sama erat dengan Kemenko Maritim. Dalam Kemenko Maritim sudah ada D2 (Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa) dimana pergaraman nasional termasuk dalam substansinya dan D3 (Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur) terkait infrastruktur industry pergaraman nasional”

Pusat Unggulan Ilmu pengetahuan dan teknologi (PUI) di kampus UTM akan meningkatkan peran UTM dalam mengelola literasi garam. “Konsep Institut Garam diimplementasikan dalam PUI. Pui menjadi lead untuk membangunnya di Pamekasan dengan menggandeng pemerintah daerah, pemerintah pusat, juga Kemenko Kemaritiman, BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) juga akademisi”. Rameyo menambahkan, Institut Garam akan mengembangkan inovasi termasuk pengembangan sumber daya manusia, mengembangkan start up dan membuka kesempatan pebisnis garam baru “Literasi garam Indonesia akan ditumbuhkembangkan melalui institute garam ini” imbuhnya.

Pengembangan garam Indonesia berlangsung seimbang yakni dengan memberdayakan tambak garam berbasis masyarakat seperti yang bertumbuh di Madura dan usaha-usaha mewujudkan swasembada garam industri di provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kementerian Koordinator terus mendukung pergaraman nasional. Dalam hal ini melalui Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa  dan melalui Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur terkait Industri pendukung pergaraman nasional. “Kemenko Maritim berperan besar  terkait enabling policy, apakah ada kebijakan menghambat atau kebijakan apa yang dibutuhkan, serta fungsi koordinasi untuk melakukan debottlenecking”, pungkas Rameyo. *

Share Button

Comments

comments

Translate »