promosyon promosyon powerbank http://mrnreklam.com.tr promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon promosyon powerbank promosyon Urusan Bisnis, Wisata ke Pulau Semakin Diminati – LAUTINDO

Urusan Bisnis, Wisata ke Pulau Semakin Diminati

lautindo H Island 2

Bertandang ke pulau-pulau kecil termasuk Kepulauan Seribu, bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya bukan lagi sebatas urusan liburan, tetapi juga bisnis. Sehingga tidak heran, banyak pebisnis mulai berpaling ke pulau untuk aktivitas bisnis dan wisata. Aspek kenyamanan beraktivitas di pulau antara lain keindahan laut dan lalu lintas yang lancar, tidak terjebak kemacetan. “Laut sudah pasti tempat yang bagus dan pulau tempat yang exclusive. Tetapi pengelola wisata atau pemilik pulau harus rajin inovasi, terutama sarana dan prasarana. Minat wisatawan, pebisnis ke pulau semakin meningkat dari tahun ke tahun,” Effendi Wen, pengusaha asal Kelapa Gading Jakarta mengatakan kepada Redaksi.

Dari sekian banyak pulau di Kepulauan Seribu, salah satunya adalah pulau H atau H-island. Pada deretan vila-vila mewah, pohon-pohon yang rindang menjadi peneduh pengunjung dan penghuni. Masyarakat dan pebisnis Jakarta lautindo H Island 1memanfaatkan waktu senggang sambil “leyeh-leyeh” menikmati hembusan angin laut. Dan dari jendela setiap vila, terlihat pantai indah dengan laut yang jernih. Penghuni tidak perlu “intip-intip” tetapi dengan leluasa memandang laut lepas beratapkan langit biru. Pulau H terbentang sampai sepuluh hektar dengan total 42 vila berdiri megah. Langit biru dengan pemandangan laut lepas merupakan bukti keindahan dari Pulau H. Pulau ini tentu tidak kalah indahnya dengan Maldives. “Kalau liburan ke puncak, mungkin udaranya sudah tidak sejuk lagi. Selain jalan tol Jagorawi semakin macet. Orang-orang Jakarta semakin beralih, wisata ke pulau.”

Untuk sampai ke pulau ini, sebagian besar pemilik vila naik kapal. Pengusaha muda, Hengky Setiawan yang membangun pulau tersebut sejak 2012, naik kapal dari “parkir-an” (kapal boat) di Pantai Mutiara. Sebagian lagi, ada yang naik dari Marina Ancol. Vila-vila dilengkapi dengan kolam renang ukuran kecil sampai sedang. Ketika berendam di kolam, pandangan berhadapan langsung ke laut, horizon dan langit biru. Sore menjelang malam, pengunjung dan pemilik vila sering berkeliling pulau. Sebagian juga memiliki golf cart. Taman-taman diurus oleh karyawan pemilik vila masing-masing. “Waktu yang sering ditunggu-tunggu, menikmati sunset (matahari tenggelam) sekitar jam 5 sore.”

lautindo H Island

Kendatipun demikian, wisata ke pulau tidaklah murah. Biayanya bisa berlipat-lipat lebih mahal bila dibandingkan liburan ke dataran tinggi seperti Puncak, Bogor, dan Bandung. Pemilik vila di pulau H rata-rata memiliki kapal boat. Tetapi bagi tamu yang ingin berkunjung ada  boat yang dapat disewa. Ongkos sewanya lumayan mahal, terutama untuk bbm. “Sekali berangkat, kita butuh minimal 30 juta untuk bbm, kapten kapal dan ABK (anak buah kapal). Waktu saya berkunjung, kita naik boat dengan tiga mesin, 900 pk. Perjalanan sekitar satu setengah jam.”

Siegrvrieda lauwaniSementara itu, anggota DPRD DKI Jakarta keturunan Tionghoa, Siegvrieda Lauwani menilai positip fenomena wisata ke pulau, terutama ke Kepulauan Seribu. Selain bebas polusi, masyarakat Jakarta bisa refreshing di tengah suasana tenang dan rimbun pepohonan. “Mungkin banyak juga masyarakat ber-duit yang mau bangun property, beli rumah di pulau. Tetapi masalahnya, transportasi agak mahal karena harus beli boat. Kalau sewa, biayanya juga mahal,” Siegvrieda mengatakan kepada Redaksi.

Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3-K) yang sedang berjalan juga menentukan wajah Jakarta ke depan. Selain itu, Raperda Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Pantai Utara Jakarta (RTRKSPUJ) berdampak pada kegiatan reklamasi terutama Kamal Muara, Pluit dan Ancol. “Perda (peraturan daerah) yang lama harus diperbaharui, dipertegas. Perda yang baru nantinya bisa memenuhi kebutuhan, melindungi semua orang termasuk warga Jakarta Utara.” tambahnya.

DPRD DKI menegaskan bahwa rencana pengesahan Raperda menjadi Perda masih panjang dan berliku. Siegvrieda dari Fraksi PDI-P masih mengajukan berbagai tanggapan, pertanyaan dari Gubernur DKI Jakarta dan pihak terkait termasuk kementerian PU-PR (Pekerjaan Umum – Perumahan Rakyat). Raperda sangat menyangkut hajat hidup orang banyak, termasuk penghidupan nelayan dan masyarakat pesisir. “Tata ruang (pantai utara Jakarta) dan sekitarnya sampai Tangerang harus diatur. Jangan sampai, pembangunan termasuk reklamasi tidak jelas arahnya. Sehingga perlu Perda dan Undang Undang.”

 Setiawan Liu/Dharma Hutauruk
Share Button

Comments

comments

Translate »