Di World Economic Forum, Menko Luhut Ungkapkan Dana Pemerintah untuk Infrastruktur Daerah Terpencil

Menko Table Swiss
Menko Luhut B. Panjaitan di World Economic Forum Annual Meeting

| LAUTINDO | Maritim | Davos (Swiss) | Dalam forum diskusi di Davos Swiss yang diikuti oleh beberapa pemimpin negara, tokoh dan aktivis lingkungan hidup salah satunya membahas bagaimana caranya agar proyek-proyek yang secara komersil tidak menarik, bisa mendapat pembiayaan dan berkelanjutan (memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengorbankan generasi mendatang). “Di World Economic Forum Annual Meeting, Menko Luhut Ungkapkan Dana Pemerintah untuk Infrastruktur Daerah Terpencil”.

Dalam forum tersebut, Menko Maritim Luhut B. Pandjaitan menyampaikan bahwa pembangunan Infrastuktur di Indonesia saat ini difokuskan di daerah terpencil.

“Dana untuk pembangunan infrastruktur kami saat ini terbatas, hanya 30% dari APBN, karena itulah pembangunan di kota-kota besar kami usahakan tidak menggunakan dana APBN,” demikian dikatakan Menko Luhut saat berbagi pengalaman di workshop bertema “From Pipedream to Pipeline” yang menjadi salah satu acara kegiatan World Economic Forum di Davos, Swiss.

“Karena itu kita harus mencari cara bagaimana agar proyek-proyek itu bisa menarik bagi investor. Blended finance bisa menjadi salah satu jalan keluarnya,” ujar Menko Luhut di hadapan para peserta.

Menko Luhut menegaskan sosialisasi kepada masyarakat harus terus dilakukan, “Yang penting adalah membuat masyarakat paham bahwa yang dikerjakan pemerintah ini akan memberi manfaat untuk mereka”.

Kami juga memperlakukan rakyat dengan fair, misalnya pada pembebasan lahan, kami menggunakan jasa independent appraisal untuk menghitung harga ganti rugi yang pantas,” jelas Menko Luhut.

Menanggapi apa yang dikatakan Luhut B. Pandjaitan, PM Papua New Guinea Peter O’Neill mengatakan, “Infrastruktur adalah penting untuk rakyat Indonesia, dengan pembangunan infrastruktur dapat mengurangi kesenjangan sekaligus mempersatukan masyarakat Indonesia yang beragam dan wilayahnya sangat luas”.

Selain dengan Perdana Menteri Papua New Guinea Peter O’Neill, dalam workshop di World Economic Forum, Menko Luhut B. Pandjaitan mendapat tempat satu meja dengan aktivis lingkungan hidup yang juga mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore, Michelle Rempel anggota parlemen Kanada, Thani Al Zeyoudi Menteri Lingkungan Hidup UAE dan beberapa tokoh lain.

 

Share Button

Comments

comments

Translate »